Tampilkan postingan dengan label My Self. Tampilkan semua postingan

ASEAN

Beberapa sudah main game, game shark, aku dulu SMP main game shark, sekumpulan game yang enteng dan beberapa mirip-mirip dijadiin satu kaset, mainnya di tendo, kasetnya mahal, bukan merk blackboard. Terlambat memang sering, tapi bisa ndak sih kalau aku bilang, lebih baik terlambat dari pada punya maag kronis. Lebih mengkhawatirkan lagi adalah, punya, em punya penguasaan berlebihan terhadap segala sesuatu yang dikira kekal, padahal benda di dunia ini sifatnya duniawi, hanya kebermanfaatan yang kekal dibawa di alam yang sudah dijanjikan-Nya setelah mati. 

Sebelum beranjak tadi, sembari aku bergumam dengan Zakia bahwa, rezeki ndak akan tertukar. BTW, itu adalah endorfin, penenang. Siapa sih yang ndak mau jadi Melly Goeslaw? maksudku jadi kayak Melly Goeslaw, kebermanfaatannya, lewat lagu-lagunya atau hal-hal lain yang ndak kita ketahui dari beliau. Aku kadang ingat kadang tidak bahwa, kegagalan datang sepaket dengan kesuksesan, keberhasilan, atau kata-kata baik yang koheren dengan itu deh. 

Sebanyak apapun cokelat yang kita minum, ndak akan merubah kulit jadi cokelat juga, baik dari putih maupun sawo matang, maupun abu-abu kayak abis kelamaan berendem di kolam renang, kecuali kalau minumnya di samping matahari. Karena di bawah terlalu mainstream. Karena melakukan sesuatu hanya demi materi ndak salah, ah semoga dinilai ibadah dan manfaat. 

Melihat kembali momen dimana kita pernah terjatuh, melompat, merumput dan tergesek menjadi serpih yang hancur dan tidak terkenal sama sekali, sama seperti mamah, ndak terkenal kalau se-ASEAN. Sekilas saja, seperti  mencabaikan tahu dengan cabai bubuk. Pemberian perhatian terbaik kepada yang begituan adalah sesuatu yang masuk akal sekarang. Kalaupun memang Himalaya jadi alasan mengapa harta yang paling indah adalah keluarga. 

Hanya dengan memberi kita akan tau rasanya memberi. Lakukan sekarang, nanti, atau entar, atau kata buruk yang koheren dengan itu, ujung-ujungnya akan jadi, ndak jadi, ndak akan pernah terjadi. 


Jumat, 03 April 2015 Leave a comment

Elemen

Termangu adalah kata kerja yang tepat. Setelah nulis kalimat tadi, aku ngecilin layar komputer soalnya takut keliatan sama orang belakang. Aku ndak rela karyaku, dalam proses pengerjaannya dipengaruhi oleh intervensi pandangan orang lain. Cukuplah Allah sebagai pelindung. Proses penggunaan air bag dan sabuk pengaman adalah beberapa cara Allah juga untuk melindung.

Temanggung itu kota yang bisa dibilang ndak strategis tapi dingin. Sama kayak ruangan ini, ruangan dimana Irul bilang, enak yah jadi orang kaya. Belum tahu dia kalau dia juga akan jadi orang kaya. Irul bakal jadi kaya, untuk harta, kalau untuk ilmu udah pastilah beliau lebih kaya dari aku. Antara aku dan kenangan, masih teringat jelas. Ini lagu Elemen bukan?. Edelmen, korporatnya mbak Meli, bagus namanya.

Bahwasannya adalah enak jadi orang kaya. Di Indonesia banyak orang kaya, berarti banyak di Indonesia yang bisa masak Indomies sesuai saran penyajiannya. Tapi aku nda yakin bisa nembus 20% konsumen Indomie akan makan Indomie sesuai dengan yang disarankan saran penyajiannya. Selebihnya hanya akan menjadikan Indomies seperti Falcao, gondrong dan pernah nangis waktu mau pindah dari Atletico Madrid.

Bagus, kamu baik sekali. Mau membawakan aku empek-empek, walau kamu dari Jember. Apapun yang akan kamu pakai, kamu akan menjadi teman terindah diantara semua anak Poltekkes mana gitu. Semoga dengan ini empek-empek akan jadi salah satu penyemangat pengelola kebijakan fiskal untuk bekerja tanpa terlalu banyak konsumsi gula. Tapi kan GGL, pembatasan GGL, bukan cuma gula, empek-empek kan lemak banyak lemak, eh di kuahnya ding.

Banyak orang kaya di Indonesia, salah banyaknya di Bukittinggi, salah banyaknya juga di Surabaya, di ruangan dingin ini. Beberapa, banyak sih, diantara mereka melirik kearah ke tangan kanan ku, di deketnya ada jus terong Belanda.

Jumat, 27 Maret 2015 Leave a comment

365

Aku sama sekali ndak punya kata-kata khusus penyemangat kalo naik, naik gunung. Seorang karip, Karip Benzema, pernah bilang kalo motivasi dia naik gunung adalah semakin ke atas, semakin dekat dengan Allah, semakin ingat Allah. Subhanallah. Aku takzim dengan beliau. Beberapa kali naik cuma pengen liat, bagaimana keadaan sendiri dengan gear baru yang menyertai. Kebiasaan nih, kalo mau naik gunung pasti punya gear baru. Kalimat terakhir juga semacem indikasi kalo aku ndak terlalu sering em banyak naik gunung. Karena aku ndak punya banyak gear, ndak punya cukup uang untuk beli banyak gear tepatnya.

Bahkan menoleh ketika ada orang menawarkan barang belanjaan pun aku ndak enak. Iya, kalo ndak beli, em cuma senyum kalo orang nawarin belanjaan, mas-mas FA SJ lagi, riweuh ah. Aku jadi mikir, beliau-beliau ini kecilnya pernah main bulutangkis pake raket Gosen ndak yah?. Gosen adalah raket yang dulu kuanggep udah pro banget, dibeliin mamah waktu aku mau tanding bulutangkis di SD Bulak, aku lupa nama SD nya, mamah atau Reka inget kok.

Reka punya rekening HSBC.

Merupakan bingung melakukan sesuatu yang ndak sesuatu banget. Aku gitu. Aku terlalu banyak isi waktu dengan sesuatu yang ndak ceritaable banget. Sekedar mau bilang ke Bagus bahwa aku abis duduk di tengah-tengah parkiran Ceria Mart aja aku ndak mau, malu, ndak menginspirasi. Aku ndak belanja di Ceria Mart, cuma pengen duduk aja di tengah lapang sempit parkiran motornya. Tusuk sate itu sumber serat, bagus untuk menyeimbangkan dan inhibit absorpsi lemak dari sate jeroan bubur ayam, Ceriamart, masih empat ribu ndak si?.

Katanya, kalo pake katanya katanya ndak maju-maju idup, harus cek sendiri harga tiket kemana aja pake moda transportasi macem di situs filter kayak tiket dot kom atau karcis dot kom. Eh iya kan yah? Jadi CEO itu harus pinter stori teling, aku ndak. Kan aku mau jadi penguasa dunia, bukan CEO. CEO Forum Kompas itu kapan lagi yah? Pengen liat, orang-orang yang nanti akan aku kuasai. Holoh.

Bahkan jika stagnan pun kita merugi, perbaikan baru benar.

Kependekan ndak sih tulisannya? Ndak lah ya. Anggep aja gitu. Nulis ya cuma karena pengen nulis, bukan karena pengen dibaca. Buat nyeret nulis produktif lainnya.

Jumat, 06 Maret 2015 1 Comment

Express

Aku orang yang ndak pinter mengekskalasi, juga dalam planing, tapi instingku kalau menuju suatu tempat lumayan akurat. Belum pernah sih aku coba ngitung berapa persen dari semua insting menuju suatu tempat yang berhasil mana yang ndak. Kadang aku ngeyel sendiri sama mbak-mbak GPS yang bilang suruh belok sini, suruh belok situ. Mbak-mbak ini udah nikah belum yah? pasti kalau mbak-mbak ini nikah, biayanya gede, soalnya harus di deket Sevel. Selepas itu bukannya lebih penting yah? tapi gengsi itu kan udah jadi kebutuhan utama, beberapa aja ogah beli martabak karena terlalu banyak kacang.

Berdiam di sebuah tempat bercat putih dengan headset terpasang di telinga dan lagu random agaknya jadi semacam minum air di Pedoman Gizi Seimbang. Btw, aku agak haru juga waktu juriin hasil lomba yang banyak banget yang serius. Banyak loh yang masih peduli sama negeri ini, beneran. Mungkin aku ndak ndak termasuk sih, em maksudnya gini, diukur dengan apa yang udah aku perbuat, aku belum termasuk yang peduli sama negeri ini. Tapi aku peduli sama perkembangan jumlah convenient store di Indonesia. Yeah.

Sampe sekarang aku masih kagum sama bapak-bapak yang kemana-mana di Jakarta pake jaket kulit atau sejenisnya. Ndak keringetan apa? ndak akan kekurangan ion lalu dehidrasi lalu ndak fokus sehingga waktu ditanya anaknya, pah apakah Blue Bird dan Express satu grup? dia jawab: nama Bandara di Yogya Adi Sucipto, Le. Kalau dikumpulin bentuk segi enam itu jadi kokoh dan tegas yah. Kurang mewah apa sih Taksi sampe harus ada Taksi Mewah?.

Aku setuju sama Mbak Mali kalau produktivitas ndak selalu koheren sama jam kerja. PNS?. Valentino Rossi mau ulang tahun yah? Selamat!. Selamat juga buat Indonesia yang udah jadi negera pertama yang punya Pekan Sarapan Nasional di Asia Tenggara. Bahkan diluar Asia Timur. Juga viewers YouTube paling banyak buat film You are the apple of my eyes, bersaing ketat dengan Vietnam kalo yang ini.

Allah, bolehkah aku mengemis rahmat-Mu? Walau aku belum sesempurna rasul-Mu?. Boleh ya.



Jumat, 13 Februari 2015 Leave a comment

Ngeletek

Ini artikel dari Prof Hardin di jalan belakang kampus, CIFOR, sampe Prof Hardin nyampe ke Kampus, Lantai 3, Gizi IPB, lagi.

Aku kepikiran aja kalau hidup ini indah. Karena apa yah, hidup selalu menyimpan rahasia yang ndak kita duga. Misalnya, aku bingung kenapa JT terkenal maskapai yang sering delay banget, kenapa Garuda terkenal ndak, padahal baik JT atau GA kalau cuaca buruk, traffic bandara penuh, atau bandara, ban ban apa yang gede? bandara SOC, ban ban apa yang lebih gede? bandara KNO, ban ban apa yang lebih gede? Bandara INC, Ban ban apa yang lebih gede? Bandara DXB.

Hari ini maki-maki JT, sampe urat leher mau putus, itu urat kan yah? yang keliatan, Teguh, kata Prof Hardin kalau nyanyi dangdut uratnya sampe keliatan. Bakso urat itu buatnya emang dari urat beneran?. Piala Suratin itu jaman Galatama-Perserikatan bukan?.

Atau bandaranya aspalnya ngeletek. Kan bisa bahaya kalau kena roda pesawat. Ngejglek gitu. Akan sangat bahaya, tapi ndak sebahaya ketika kita lupa akan nikmat-Nya. Aku adalah satu dari sedikit orang dilingkunganku yang jarang sekali menghitung-hitung berapa nikmat yang Dia berikan. Aku harus belajar banyak dari mereka, sama mbak-mbak yang jaga tempat usahanya Faiz juga. Aku sih beranggapan mbak itu lagi dzikir sambil jaga, lah aku? kadang lupa baca hamdallah abis makan. Hikz. Aku belum pernah denger sih, Hitz. Si Vincent disitu yah? punya Indika-NET juga kan yah itu?.

Aku melankolis. Aku perfeksionis. Aku procrastinator. Kalau kesemuanya digabungkan akan jadi, ngemprah. Ndak ada yang sempurna, tapi juga ndak ada yang salah, hanya aku manusia bodoh. Bodoh itu interior mobil bagian depan yang ada setir, air bag, jam, audio, parfum, e-toll card dan kartu garansi. Dashboard. ~board. Gitu?. Bagiku, kata sebelumnya terdengar banget egoisnya, tapi emang ini hanya berlaku bagiku, seperti yang aku bilang waktu diskusi sama anak-anak EG kalau pengategorian, dengan standar apapun, untuk hal-hal terkait hidup, selaras seperti yang mbak Dati dan pasti temen-temen disini pahami, lebih dari yang aku pahami, hanya akan buat kesempatan bersyukur menyempit.


Aku lebih suka QG. Karena penerbangan QG pertamaku ke KNO. KNO juga pertama. Kamu. Investasi apa yang bisa dimulai dengan lima puluh ribu?. 

Sabtu, 24 Januari 2015 1 Comment

Honoris Clausa

Walau bukan orang yang pandai buat puisi aku termasuk melankolis. Liat motor masih tergolek setelah empat atau lima hari ditinggalin di stasiun Bogor, atau di parkiran IPB Diploma aja aku, mataku berair. Aku bukan tipe orang yang memandang orang lain hanya dengan mengukur seberapa tebal undangan saat dia beresepsi. Useless, bener kata mbak Mali undangan resepsi tebel-tebel gede-gede cuma bisa jadi bahan ndamprat orang.

AFAIK, sekarang udah jarang orang yang ngajak kompetitornya untuk konfrontasi langsung, jadi undangan tebel bakal amat jarang kepake, kalo emang gunanya buat ndamprat orang. Kalau punya uang mah ndak papa. Bebas. Beli duren yang udah ada jelas-jelas tulisannya 50rebu tiga, terus pake nanya sama mamangnya 50rebu tiga boleh ndak? mamangnya bilang, buat adek mah, 50rebu tiga boleh. Itu Bagus. Bukan, bukan Bagus katak sifat, melain benda.

Aku agak ndak tau juga sih beda iPad 2 sama iPad 3. Pernah pake Mac Book kak Nazhif, dan Prof Hardin sukses dibuat jengkel karena kecepatan mengetikku menurun. Mulai dari tombol CTRL yang berpindah dari tempatnya, tidak berfungsinya short cut sampai pada layar yang agak berbinar. Kadang, tidak semua tepat ditempatkan secara acak. Mungkin ini alasan Allah menempatkan aku di predestination ini. Kata dari Bahasa Inggris terakhir yang aku sebut, itu efek dari nonton film dengan judul yang sama. Allah selalu punya alasan terbaik untuk hamba-Nya, yang mempertanyakan. Gitu kan yah? Atau gimana?. Yang jelas, aku bukan seorang sholeh.

Aku tadi pagi, menitipkan ke Damri laptop Alin, ASUS mereknya, juga sarungnya, Doraemon gambarnya, juga hape Alin, ACER. Juga beberapa makanan yang aku ndak mampu memakannya sendiri. Alin, mas bangga atas ranking 1 Alin, atas rasa sayang Alin sama mamah, mas dan mbak Reka, atas rasa takut Alin untuk tidak meminta macam hal sama mamah, atas kesediaan untuk memakai baju tahun lalu di hari lebaran, eh atau tahun kapan yah? saat mas alpa belikannya, mas bolak-balik Abdul Moeloek aja, atas mata yang ndak pernah basah di depan mas, atas banyak hal lain yang bahkan mas lalai mencatatnya. Mas belajar banyak dari Alin. Alin daftar Doktor Honoris Clausa gih ke UMN, pasti dapet. 

Sabtu, 03 Januari 2015 Leave a comment

Arion

Maghrib, aku mau buat kopi dulu boleh? Tapi baiknya aku sholat dulu yah. Kalau aku nunggu lagu Sementara-Float sampe beres boleh ndak? Udah beres nih. Aku sholat dan buat kopi dulu yah. Udah nih, udah sholat dan buat kopi. Aku tenang. Setenang saat di KRL malam larut dan mengingat mu.

Ini tulisan mandek 24 jam. Baru dilanjutin besoknya dari tulisan paragraf di atas. Saat daftar putarkau udah ganti jadi Opick semua awalnya “Awal Desember”. Helo, udah mau ganti tahun gitu loh. Cuma aku lagi agak kedinginan. Padahal serasa panas, aku juga ndak tau persis kenapa gini, beberapa hari ini. Padahal operasi Lilin udah mulai dari Kepolisian RI.

Aku Cuma mau bilang kalo, kalo menemumu adalah sebuah harapan itu sendiri. Atau gimana yah? Harapan yang bertambah laju dan membesar sampai sebesar sombongku. Sebesar dosa aku juga sih. Aku pernah mau tenggelam di sungai, Sungai Serayu. Kata mamah, kalau cuma nulis sungai, s nya ndak kapital, tapi kalau Sungai Serayu s nya kapital, bukan S besar loh ya. Terus aku seneng diajarin mamah tentang Bahasa Indonesia, tapi mamah bilang: pelajaran lain udah lupa. Itu aja yang beliau inget. Aku nyerah. Mungkin ini sebabnya aku sering typo kalau nulis.

Kalau berharap saja kita sudah takut, pada apalagi kita bisa gantungkan optimisme? em, optimisme dan kebahagiaan akan pandangan masa depan disusun dari tumpukan harapan yang rapi. Pengharapan tanpa disertai separatisme kehendak-Nya-lah menurutku menggerakkan kaki untuk terus melangkah, rambut untuk kembali tumbuh dan dicukur. Ada kalanya jatuh dan sakit karena harapan tetiba lenyap di perempatan Yasmin, atau perempatan sebelum perempatan Arion kalo dari arah stasiun Manggarai. Aku ndak tau namanya apa, mungkin kak Nazhif lebih tau.

Membangun harapan seperti memasang satu blok puzzle keatas dengan puzzle yang pas. Aku penuh harap doa: ya Allah semoga itu orang-orang di sekelilingku sekarang, walau sekarang aku sendiri minder kalau komparasi pake indikator apapun sama orang-orang sekitarku. Bukan, ini bukan kalimat manis yang kayak pejabat kampus bilang biar bisa akrab sama orang lain, ini bener, aku bener-bener ngerasa apalah aku ini. Aku ndak mau pake pengibaratan.

Termasuk, em, kamu. Walau kamu walau secara harfiah agak jauh sih. Tapi aku hanya perlu dua kali sentuhan. Entah mau pake yang E-Money atau default dari terbitan moda transportasinya. Yang agak jauh malah aku sama Allah-nya. Hiks.

Belakangan sering lalai. Bahkan sering lalai kalau aku sedang lalai. Aku sering naik motor, lalu nengok kiri kanan, lalu mikir, akan kah masih ada tanah kavling tersisa buatku? eh salah begini, akankah aku sanggup memiliki rumah? atau untuk sekedar masuk Coffe Bean saja, akankah aku tanpa berpikir dulu ada berapa uang tunai- bisa dipegunakan untuk tunai entah dari CC atau DC-yang aku punya?. Aku juga bergetar saat tau bahwa hanya untuk ke Puncak dan bermalam keluarga bisa habis 5-6 juta? aku terhenyak. Ah, kamu tau betul bagaimana menenangkanku. Kalau mamah tahu aku pake-nya tau bukan tahu, mamah akan marah. Kamu yang tangani yah.

Aku sudah bilang? kalau saat aku nulis adalah penghujung 2014? Waktu cepat yah. Makasih untuk hari-hari 2014 yang abstrak, bertumpuk, klise tapi menyenangkan kok. Semoga seterusnya begitu.


Perlu aku berdoa, walau banyak yang nyinyir kalau berdoa berdoa aja ndak usah diposting di media sosial, blog itu media sosial kan yah? FB dan Twitter kan micro blogging, tapi aku mau berdoa aja: Allah, jadikan waktu ku bukan waktu yang terlalu banyak untuk memikirkan diri sendiri. 

Jumat, 26 Desember 2014 Leave a comment

Regret

Hari sudah sore, mungkin sudah masuk waktu malam. Mungkin sudah waktunya makan malam. Ah ternyata aku lupa makan siang, ndak ada yang ngingetin sih. Haha. Samping kanan dan depan lagi pada ngomongi dolar. Aku ndak seharusnya ikut campur, ndak berhak juga sih.

Di belakang ada papan tulis putih. Kalau SMA dulu sebelahnya ada papan hitam. SMA, putih biru, kamu. Mungkin kamu jadi alasan aku menulis ini. Bukan mungkin, tapi memang begitu. Sempat diawal tadi aku terpejam. Ah beberapa hari belakang ini ndak kubayangkan senyummu, ada di pesan-pesan singkat mu. Biasanya begitu, ada senyum, banyak senyum yang menyerta pesan singkat mu. Walau diam-diam diantara banyak orang, aku juga ikut tersenyum saat membacanya.

Kamu baikkah? aku baik. Malam tadi aku memimpimu. Kalau tidak salah seminggu terakhir, aku sering begitu.

Adalah benar jika aku laki-laki. Yang buruk. Mungkin aku lebih buruk dari Rangga yang tinggalkan Cinta lebih dari 12 tahun. Jelas aku lebih buruk dari Sandiaga S. Uno, pedagang, pebisnis besar yang aku tau pertama kali dari mu. Aku bahkan lebih buruk dari orang yang menyerobot antrian ATM. Aku pernah jahat padamu? kamu tentu tahu jawabannya.

Saling mengenal sejak SMA, sampai saat ini, ah sudah hampir 6 tahun ternyata. Dengan berbagai perbedaan yang waktu awal itu pun sudah berbeda. Sampai sekarang jelas masih berbeda. Aku tidak masalah. Toh Taufik Hidayat lebih memilih Ami Gumelar sebagai istrinya, bukan Ardiyanti Firdasari yang sama-sama pe-bulutangkis. Atau aku perlu uraikan contoh lain? lihatlah sekelilingmu, apakah perbedaan bisa jadi alasan untuk tidak bersama?. Berbedalah yang buatku tertarik padamu. Hanya padamu, bahkan saat kamu uring-uringan, dengan pesan-pesan mu.

Kita berbeda dalam banyak hal, kecuali dalam. Perlu aku lanjutkan kalimat ini? Kecuali dalam cinta.

Aku menulis dengan penuh harap, seperti seorang anak kecil yang begitu berharap dibelikan mainan, robot-robotan. Regret.

Rabu, 19 November 2014 Leave a comment

Alumni

Masalahnya, aku sebut masalah atau apa yah? kalau sesuatu yang ada dan berperan seperti menghambat berbagai macam gerakan itu masalah kan yah? atau ujian?, ujiannya kita ndak pernah punya ukuran kesuksesan yang sama. Sejauh memandang, sukses adalah seperti terpampang dalam Obituari Kompas ketika meninggal, ada fotonya di gedung alumni, jadi nama salah satu aula Kementerian apa gitu atau lainnya. Ya lainnya, misalnya menjadi nama jalan kayak Tol Prof Sedyatmo atau jadi salah satu inspirasi karya seni, bisa lagu, bisa talkshow, talkshow karya seni kan yah?.

Talkshow semakin banyak dan seragam. Sangat sulit menemukan sesuatu yang berbeda dalam satu talkshow dengan talkshow lain. Kayak warung peuyeum di puncak, beda plang namanya doang. Atau kayak penjual es kelapa muda di exit gate Candi Prambananan. Entah kenapa, hanya tertarik melihat, kalau tidak benar-benar hipoglikemi untuk beli peuyeum di jejeran warung puncak, atau kalau tidak bener-bener dehidrasi untuk beli kelapa muda di exit gate candi Prambanan, ya ndak beli, walau udah punya kartu kredit standar chartered. Dongkraknya bisa kamu. Kamu yang malam-malam begini tidur, sembari duduk, lalu besok bilang masuk ngantuk, lalu aku bilang, tidurlah. 

Aku ndak pernah bener-bener tau, apa sih yang membedakan orang pake batik ke kondangan dengan orang yang pake cardigan model RAN gitu. Bagiku, MBA bisa jadi opsi terakhir bagi yang ingin mendapat gelar dengan uang cukup lalu memilih berkari di berbagai bidang. Tapi ingat, MBA ndak bisa buat orang jadi Bidan. Perawat juga, kan udah ada UU perawat. Kerja, kerja, kerja! adalah pilihan terbaik. 

Terus terang, aku perfeksionis, tapi sifat ini juga yang buat aku jadi ngemprah. Ah memang, sepertinya kosan perlu tempat sampah yang lebih rigid. Jadi ingin Virgin Air, salah satu anak perusahaan Qantas kan yah?. Qantas yang ngelayanin Kangaroo Route, bener ndak sih nulisnya? maklum, lagi ndak konek ke internet, jadi ndak bisa cek. Aku kira Bitburger itu merk burger, ternyata merk Bir. Ah, Allah, tuntun hambamu lebih banyak mengisi hari dengan kebermanfaatan dibanding kesia-siaan. 

Senin, 03 November 2014 Leave a comment

Paragraf

Mata ku pedih malam ini, mungkin karena kurang tidur, bukan mungkin tapi iya emang. Menelusuri hingga jauh kehidupan akan membawa kita pada sebuah kesimpulan bahwa, bahwa hidup ini keras! Oh bukan bukan itu, bahwa rumput tetangga lebih hijau. Pun walau tetangga ndak memiliki banyak air mineral, rumputnya jelas terlihat lebih hijau.

Menelusuri kehidupan melalui berbagai macam situs blogging, situs micro-blogging, sampai forum terang benderang sampai remang, iya membawa kesimpulan bahwa rumput tetangga lebih hijau. Semakin pindah tulisan ke paragraf ini semakin menambah kesimpulan bahwa bukan hanya rumputnya yang lebih hijau, namun juga lebih rapi dengan lis kaca yang ndak bersuara ketika dibuka dan ditutup pintunya. Dengan akreditas lain juga menyerta pada rumputnya, aku semakin menunduk dan menyemprotkan KisPray berisi Downy ke daypack-ku, entah kenapa, aku merasa benar-benar “apalah aku ini”.

“Apalah aku ini” yang berbeda seperti yang dilafal dan maksudkan dengan yang biasanya jadi bahan joke pejabat kampus. Apalah aku ini yang tulus, yang memang dimulai dengan napas dalam-dalam. Diakhiri dengan pandangan lama keatas dan lama. Lama sekali, sampai harus aku harus menunggu Coldplay mengakhiri Paradise-nya.

Sebentar aku sholat malam dulu. Aku ndak konsen nulis kalau masih kepikiran bahwa aku harus sholat malam sebagai janji aku harus ungkapin syukur sama nikmat Allah. Aku lanjutin lagi yah. Perlu pindah paragraf ndak? Perlu kayaknya yah.


Menuju ke rumah mu, aku bergetar, sampai mengetuknya, dibuka, melihat mu malu, berbincang, menunduk, berbincang lagi, menengadah, mencari bahan, memutar otak, merasakan beberapa rasa makanan, membasahi tenggorokan, sampai akhirnya mengukur, berapa banyak yang harus aku siapkan?. Ah banyak yah. Ringan, selama dirimu memenuhi harapanku; ayo kita perjuangkan bersama. 

Senin, 08 September 2014 1 Comment

Kispray

Ini masih pagi, masih 8:44 am. Masih terlalu dini jika menyiapkan makanan berbuka. Masih terlalu muda untuk menikah. Masih terlalu awal jika terjatuh vonis bahwa semuanya sudah akhir. Masih banyak yang bisa dilakukan, seperti menengadah lalu tertunduk kembali. Oh ndak hujan. Matahari pagi ini terik. 

Pagi ini dengan kaos aku duduk, sama seperti beberapa hari yang lalu, sama seperti beberapa bulan, tahun yang lalu. Tapi ada yang beda kok, dengan rambut yang beda, dengan kaos yang beda, alas kaki beda dan moda transportasi beda (?). Beberapa hari, bulan dan tahun yang lalu aku masih suka wallpaper desktop Lee Chong Wei, hari ini aku ganti jadi default Windows 7. Ah, kadang yang biasa, biasa bersahaja, tanpa suar-suar silau, malah mengagumkan, kadang juga jadi amat mengagumkan. 

Iya benar, tanpa suar. Walau kadang menjadi penujuk arah, jaman GPS kayak sekarang suar lebih banyak menyilaukan. Hanya jadi tanda bahwa, ini loh cahaya gua. Tajam dan menjorok kelaut. Kamu harus tau dan ngeh kalau aku suar. Kalau aku punya trah dari Soekarno (?). Dengan sedikit analisa diksi, akan mudah sekali terbedakan mana suar yang punya rol kabel mana yang hanya mengandalkan colokan paralel nirkabel. Nirkabel maksudnya ndak ada kabelnya, bukan kayak listrik WiFi gitu. Seru kali yah kalo Android abis KitKat itu Lumpia. 

Setiap pagi adalah start untuk hari ini, sampai malam, sampai terlelap diatas keyboard. Ada yang terlelap diatas sajadah? Aku! Tadi malem. Bukan hehe, bukan abis muhasabah, tapi abis nyetrika, terus kispray-nya abis, terus setrikanya aku matiin, bajuku yang belum disetrika masih ada. Aku bangun baru jam setengah lima, pas bagian akhir adzan, ndak sempet saur. Aku nyetrika sambil muhasabah. Halah. 

Selalu ada kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya, kesempatan itu namanya hari esok. Kalimat barusan lebih epik kalo dibaca pas dini hari. Atau pas mau berangkat mudik. Eh, iya, dari postingan di atas belum ada bau-bau ramadhannya yah? Alhamdulillah di paragraf akhir ini keluar kata “mudik”. Semoga dengan kata mudik barusan, postingan ini lebih kelihatan soleh. Tapi buat apa kelihatan soleh kalau ndak pandai melipat baju? Ndak pandai membedakan mana pakaian yang seharusnya diletakkan di lemari bagian atas mana yang sebaiknya Ndak usah disetrika untuk alasan efisiensi.

Akhirnya, kadang kita harus setuju bahwa kuantitas lebih penting dari kualitas. Dalam kasus, kepemilikan pakaian dalam dan kaus kaki misalnya. He. 

Senin, 21 Juli 2014 Leave a comment

AC

Dikosanku lagi mati lampu, padahal sebelumnya aku lagi nonton Charlies Angle, banyak yang disensor ternyata setelah masuk Trans TV. Ini salah satu serial favorit ku, kalau dulu saat aku masih SMA alasannya karena: adegan actionnya, kalau sekarang aku udah gede (ceileh) mungkin lebih karena: perempuan aja tahan banting, masak laki-laki (kayak aku) ndak?.

Ada berbagai rasa yang menyerta masuk Ramadhan kali ini, termasuk urusan yang membuat aku mute beberapa akun di timeline twitter, yang mengejawantahkan hal ini jadi sesuatu yang bisa digolongkan hanya 2 golongan, jadi golongan hitam dan putih, dan (ini yang agaknya jadi alasan aku mute) golongan berdasar persepsi pribadi; pilpres. Aku ndak menyalahkan ya, namanya juga orang usaha, toh aku juga bilang gini berdasar persepsi pribadi. Juga menyerta rasa bahwa: akankah generasi emas Belgia bisa juara piala dunia (?).

Aku dan mamah selalu percaya bahwa tugas kita sebagai makhluk adalah belajar dan memperbaiki. Keduanya selalu berkesinambung. Jika salah satu hilang, seperti hilangnya Andhika dari Kangen Band. Demi penjualan album, nada dering,  rating konser TV, dan popularitas agaknya, manajemen Kangen Band bersiap menjilat ludah sendiri: mengajak kembali Andhika bergabung dengan Kangen Band. Aku dan mamah juga percaya bahwa ndak ada hal salah saat kita belajar, syaratnya selalu diikuti dengan memperbaiki. Gitu sih kata mamah. Aku setuju aja. Aku kan anak pertama.

Terlepas dari benar dan salah konsep itu aku merasa senang ketika diremehkan, em, lebih tepatnya aku berpikir negatif bahwa aku diremehkan. Ndak, aku ndak lagi barusan ngerasa gitu, aku sering  berpikir negatif bahwa aku diremehkan. Awalnya memang sakit seperti sakit mbayar pake uang 10rb dan 5rb agro Blue Bird yang tertulis 11rb terus ndak dibalikin sama supir Blue Bird-nya. Selanjutnya terbiasa saja diremehkan, malah memperbanyak cermin di sekeliling diri, mencerna mana yang kurang. Hikmahnya saat terakhir aku berpikir negatif bahwa aku diremehkan: aku baru sadar kalau sepatuku beda ukuran kanan dan kiri. Yang kanan 42, kiri 43 atau sebaliknya yah? Aku lupa.

Sempat dulu terpikir: indah dan megah rasanya kalau aku termasuk satu dari sedikit orang pengambil kebijakan di masa depan. Nah, hikmah baik, aku sebut baik yah, aku berpikir negatif bahwa aku diremehkan adalah aku ndak berpikir begitu lagi. Mungkin aku lebih baik berdiri di pojokan, sambil ngetik ndak jelas ketimbang jadi apa yang aku sebut di kalimat pertama paragraf ini.


Batere laptop tanpa asupan arus AC udah dipake sejam setengah sebelum sekarang, aku liat barusan masih  sejam dari sekarang abisnya. Masih cukup waktu bagi temen-temen yang baca tulisan ini untuk memikirkan keputusan bahwa aku: pantas dimaafkan atau ndak. Semoga sebelum masuk Ramadhan aku termasuk orang-orang yang termaafkan. Aku tadi sebentar lari ke lantai atas kosku, berlagak nyari-nyari, ada yang hilang: perasaan bahwa bagaimana jika Ramadhan ini, Ramadhan terakhirku?. 

Sabtu, 28 Juni 2014 Leave a comment

3

Menemani adalah hal yang paling mengasyikkan. Sendaknya itu aku anggap perasaan yang keluar dari The Celup Sosro. Menemani malam dengan lagu Nike Ardila. Ardiles, sempet punya kayaknya dulu sepatu merk itu. Adalah hal yang menyenangkan tiap selesai catur wulan, selepas kelas 3 berlalu ada semester sampai sekarang, mamah selalu menunggu di pasar. Tanpa lipstik di pasar. Seingatku mamah memang ndak pernah mengenakan lipstik. Kata mamah, ibu-ibu di Aisyiah pernah bilang kalo mamah, kayak ndak punya uang buat beli lipstik, padahal mah emang. Mamah beliin bakso, dengan sepatu ardiles setelahnya. Eh Ardiles itu l nya satu apa dua yah?

Malamnya aku tidur selama 3 pekan kedepan dengan sepatu di kaki. Di kaki yang bersih setelah dicuci tentunya, kata mamah kalau tidur ndak cuci kaki, ndak akan bisa rangking 1 lagi di catur wulan, selepas kelas 3 berlalu ada semester sampai sekarang, berikutnya. Sampai saat upacara hari senin sepatu itu aku kenakan. Malam dimana semua menjadi indah, dimana film kera sakti lebih menggoda dibanding mengaji.

Tanpa ditemani The Celup Sosro tentunya. Deuh ini word kok sok tau banget, ngubah-ngubah teh jadi the. Banyak hal yang berubah, termasuk aku yang selalu tidur sebelum jam 9 malam dulu. Lalu perlahan menggunakan Molto, hingga belakangan aku lebih suka menggunakan Downy. Aku sempet dikatain sama Mbak Mali, masak Septian pake Downy, sepatunya aja talinya kayak ular, lorak-lorek. Eh mbak Mali bilang gitu ndak yah?. Aku lupa.

Kadang-kadang kita emang butuh sendiri, adalah hal yang biasa kalau aku biasa minta ditinggal aja pulangnya. Aku lagi pengen sendiri kalo gitu. Bahkan kayaknya aku perlu deh punya waktu sendiri dalam sehari. Sendiri dimana hanya ada the celup sosro dan aku. Aku ndak perlu ubah the jadi the kan yah?. Setidaknya sendiri adalah saat dimana bebas mbengong bermenit-menit sembari liat kunci motor atau sekedar mengukur berapa sudut kemiringan pada huruf di kibor dengan menerka. Sendiri juga disaat sendal adalah hal paling baik untuk diletakkan di lantai dan mengangkat kaki keatas kursi, bisa satu, kayak pas makan nasi padang, atau dua kayak L.

Aku pengen pulang. Kangen mamah.

Kadang letih juga ketemu orang-orang yang kalo ketemy aku punya hal yang harus dilakukan, bukan untuknya, tapi terkait dengannya. Aku mau mamah. Mamah ndak mau aku ngapa-ngapain kalo aku ketemu beliau. Bahkan seharian cuma nonton Nat Geo di rumah ndak papa. Sambil tidur-tiduran. Sambil dipijitin sama Alin kalo aku mau, kalo aku mau mbeliin Alin es krim abisnya. Masakan mamah adalah satu-satunya bahan tanya yang mungkin mamah lontarkan. Mau makan apa mas? Nasi Lemak Air Asia mah. Mamah ketawa. Aku juga. Mamah masak sayur bening sama sambel terasi. Iya, mamah ndak bisa masak, mamah ndak pengen dibilang bisa masak juga. Punya duit menjelang lebaran, mamah lebih milih buat beli kue dibanding beli baju baru buat aku. Sambil makan aku njelasi apa kandungan gizi tiap-tiap bahan makanan. Setidaknya, ini jadi salah satu ekplanasi bahwa anaknya kalau kuliah ndak tidur walau ndak lulus Cumlaude.

Sambil makan, aku sering liat mamah. Aku seneng. Mamah mukanya seneng banget. 

Selasa, 27 Mei 2014 1 Comment

Roma

Berada dalam ruangan yang hanya tersedia the pahit adalah ndak enak, apalagi dengan kelembaban yang rendah. Jelas pilihan lain akan diambil perduli atau tidak pilihan tersebut bahkan lebih pahit dari the pahit. Maksudku mau ngetik the kok jadi the yah? Dasar Word 2010 sok tau.

Itu, eng anu. Lagu Maudy Ayunda yang menemukan di miliaran manusia itu setidaknya masih akan bertahan sampai berapa tahun lagi yah? Aku sih percaya, kalau Allah berkehendak, nasib lagunya akan sama dengan lagu 132 juta jiwa-nya bang Roma, yang sekarang udah ganti jadi hamper 2 kali lipatnya. Aku lebih suka dibeliin pulsa dari pada di beliin biscuit, tuh mau nulis biscuit malah jadi biscuit. Dasar Word 2010 yang sok tau.

Nah sampe paragraf ini aku udah benerin bahasanya jadi Indonesia. Jadi rapih gitu. Ndak ada merah-merahnya di bawah tulisannya. Ah lega rasanya, Word 2010 udah ndak jadi sok tau.

Banyak yah, orang yang berbuat kebaikan, tanpa mau dibaiki. Artinya? Iya, udah pada taulah yah. Aku selalu brebes mili kalau liat orang yang buat kebaikan dalam diam, ndak dalam kungkungan ambisi pribadi atau sekedar checklist pada daftar apa-apa yang harus dikerjakan demi mencapai posisi yang lebih tinggi.

Seperti Oneworld yang lagi terguncang akibat MAS. Apa itu ngefek buat Qatar? Qatar kan Oneworld juga yah? Ah Septian kamu nulis apah? Sudah, sudah jangan nulis dengan pikiran loncat-loncat. Kayak belalang aja. Belalang kata Pak Ahmad Sulaeman bisa jadi alternatif sumber protein loh, kan halal. Semoga semua kader partai bisa bersatu, terus minum Milo bareng-bareng. Jadi pada senyum bareng-bareng. Bukan minum the pait. Kok masih otomatis berubah jadi the yah?.

Kota kayak Slawi aja bisa terkenal karena The nya loh. Kamu mau terkenal karena apanya Septian? Entahlah aku mau kayak Milo aja, yang ndak marah walau setelah diseduh terus ditutup lagi terus diseduh lagi, udah gitu aja, ngulang-ngulang. Pilihan terbaik adalah bersyukur, berbahagia seperti pas kecil dulu main ujan-ujanan pas ada ujan turun. Kalau ndak ada ujan, pipo ledeng bocor pun rasa bahagianya masih sama seperti main ujan-ujanan.  


Ah maap udah ngambil waktu tidurnya. Bahkan baca blog ini lebih membosankan disbanding dengan nonton Atletico Madrid versus Chelsea semalem. Eleuh PeDe banget kalau blog aku ini dibaca pas kebangun dari tidur. Jadi tidur, terus kebangun gegara sadar belum masukin motor, terus bukan blog aku. Ndak perlu ngetik lengkap di tab browser karena udah sering, jadi tinggal ketik sep terus enter, nyampe. Seneng karena ada postingan baru, tapi postingannya zonk. Ndak ada manfaat. Maaf yah Guh.

Rabu, 23 April 2014 1 Comment

BNI Taplus Muda

See, kalau boleh dibilang dan digolongkan, yah walopun ada spanduk golongan putih di jembatan penyebrangan depan gedunng alumni. Em, aku termasuk orang yang perfeksionis. Dampaknya? aku lebih suka denger lagu pake headset atau earphone dibanding pake speaker langsung. Em kalau dibandingin 2 yang pertama, aku lebih milih pake earphone.

Aku pernah ngasih Reka hadiah earphone Sennheiser. Mahal yeuh. Rada nyesel ngadoin Reka itu, apalagi setelahnya aku mesti ngemis ke orang parkiran stasiun, pulang dari beli Sennheiser di Comfest JCC aku kehabisan uang, pun buat bayar parkir yang 3000. Ah iya aku belum bayar parkiran itu sampai sekarang. Tapi entah orang yang jaga parkiran itu kemana sekarang. Sejak Pak Jonan bersih-bersih stasiun hilang juga kesempatan aku bayar utang ke orang itu. Pak, ikhlaskan ya Pak.

Orang perfeksionis laiknya mamah dan kak Nazrul mau semuanya beres dengan sempurna. Tanpa celah sedikitpun kesalahan buat lewat. Kak Nazrul contohnya, aku belum pernah baca, ada typo di notes-notes facebook-nya yang sebenarnya bagus sih, tapi aku males bacanya. Banyak banget yeuh. Mamah juga, aku ndak akan bolehin Alin tidur, sebelum Alin nyelesain 10 soal latihan ujian anak SD.

Sayangnya ndak kayak mamah dan kak Nazrul. Mereka udah tua. Aku masih muda. Aku masih 22 tahun J. Yah sebentar lagi 23 sih, bulan Mei nanti, tanggal 24 aku ulang tahun. Kasih aku BG 66 dong kalo aku ulang tahun. Juga Yonex Nano 9900. Aku ada rekening BCA, BNI biasa, BNI Taplus Muda, BNI KTM (iya aku masih mahasiswa, jangan dihina yah, dihina ndak papa ding, aku memang rajin bersihin telinga pake cotton but/bad/bat (?) *begini bukan sih nulisnya? pokoknya bahasa Inggris lah itu), Bukopin, OCBC NISP, BSM ama Mualamat).

Aku masih banyak salah. Ndak kayak Kak Nazrul. Semuanya pengen ku kerjain sendiri, ya semua. Tapi laiknya Penguin, tangan ku panjangnya terbatas, aku ndak akan pernah kuasa merengkuh gunung. Jangankan gunung kursi tengah Honda Mobilio (aku masih bingung sama kelas mobil ini, mau kugolongin kelas MPV 3 baris sempurna sama Inova dan Livina kok ya kursi belakangnya nanggung, harganya lebih murah. Kalau digolongin MPV kursi 2,5 kayak Ertiga, Avanza atau Xenia kok ya harganya jauh lebih mahal) aja lebih panjang dari tanganku.

Makasih temen-temen @EdukasiGizi udah banyak mengerti dan mengingatkan dan paling penting, kalian tuh mengisi hari-hari ini dengan sejuta rasa tauk. Raisa, Gita Gutawa sama Maudy Ayundya, yang paling cantik mana?

Maafin aku yak.

Masak yah mas, Ayu Ting Ting, belum 9 bulan nikah, udah ngelahirin! (Alin).

Kalau dikira aku dengerin lagu Perfect-nya Simple Plan pas nulis ini, ndak euy, aku dengerin RIVER! Sungai mana yang mampu mengalir tanpa kemiringan? Maafkan aku kalau miring yah.

Udah ganti playlistnya jadi MCR-Sing.



Selasa, 25 Februari 2014 Leave a comment

Ngidupin

Malam ini, setelah aku mengaruhi, beuh pake diksi mengarungi lagi. Eh, ini wordnya kegedean aku kecilin dulu pake scrol *gini ndak si nulisnya?* terus teken kontrol. Jadi 100% lagi, jadi normal lagi tampilannya. Aku percaya, sampe sekarang sih, kalo segala sesuatu akan bergerak menuju ke titik ekuilibrium, laiknya atom jadi elektron terakhirnya jadi 2 atau 8. Atau antioksidan mencari radikal bebas, begitu juga sebaliknya. Walau dalam kehidupan nyata ndak pernah ada itu konstan di titik seimbang. Pun kalau ada orang yang dari SD sampe SMA dia rengking satu terus, pas kuliah dia ndak akan dapet rengking. Ndak ada yang persisten kan?

Pernah aku diajari tentang persisten, semacem konsisten dalam standar yang tinggi. Ah emang kayak mana standar tinggi itu? Semacem tidur cuma 4 jam sehari? Semacem belanja jas ujan sekali pake di Alfamart Tajur aja pake kartu debit BNI, semacem bisa bales sms cepet atau sekedar bisa main bekel?. Bekel buka bekel yang biasanya dibawain mamah pas aku SD dulu. SD sebelum kelas 3 sih.

Aku abis ngeprin baliho dan komik buat Pekan Sarapan Sehat. Eh ayok 14-20 Feb kita peringati #pekansarapan sehat! Tweetnya pake hashtag #pekansarapan ya :). Ngeprin di Gundaling, semacam penggemar Vespa aku laiknya penggemar Vespa, duh kalimatnya, iya semacam ndak beralih dari Gundaling. Aku sore tadi ke prinan yang di Air Mancur, ya Allah, kalo aja ndak ada WiFi gratis kecewa pasti udah sebanyak rambutan di pertigaan Bubulak, itu loh yang jalannya emang sengaja dibiarin rusak biar pengendara sengaja lihat barang dagangnya, rambutan dan buah-buahan lain.

Tuh yang buat aku akhirnya beli rambutan.
Ada uang beberapa lembar di dompet, aku ndak jelas tahu ada berapa uangnya. Cuma akhir-akhir ini aku lagi banyak uang (tunai). Beuh banget yah, semacem aku sebelumnya punya banyak simpanan (uang).

Baik tadi siang pas aku kesana untuk pertama kali hari ini dan dini tadi untuk hari ini juga. Ohiya aku nyebut awal aku bangun sampai aku tidur lagi itu satu hari. Kalo hari akhir pekan hari ku lebih panjang. Iyah, kadang hari jadi lebih panjang cuma karena pengen baca trip naek pesawat orang-orang kaya, iya, yang aku lakuin emang semacem perbuatan sia-sia yang ndak turut memajukan peradaban bangsa.

Aku parkir di depannya, di jalan yang dibangun mendampingi jalan layang ke BORR. Aku ngeprin, kayaknya mas-mas Gundaling udah kenal aku, buktinya? dia ndak nanya nama ku. Aku keburu bilang duluan pas dia mau ngisi kolom transaksi. Lepas ngeprin aku mau pulang. Mbayar parkiran pake uang gopek logam 2, tapi aku lama duduk di motor yang di parkiran. Parkiran yang ada di, di jalan yang dibangun mendampingi jalan layang ke BORR.

Lama banget sampe aku mbalesin wasap beberapa temen, BBM, ngeliat tweet dan ngidupin MP3. Ada kayaknya 10 menitan. Aku bergegas setelah nyalain MP3, pulang. Pake kaki, yang lecet deket kelingking kiri karena sepatu pantofel (murah, aku beli direkomendasiin mbak Sisil, 50.000) aku dorong motor ke belakang, eh ada yang narik. Mas-mas yang jaga (atau apa yah nyebutnya? Semacem punya kekuasaan di parkiran itu, parkiran yang ada di, di jalan yang dibangun mendampingi jalan layang ke BORR.

Masnya dari tadi bediri di belakangku toh? Nunggu buat menunaikan tugasnya mbantu aku mundurin motor. Aku liat masnya kurus dengan baju bola (murahan) yang sponsor depannya PILKITA. Klub mana yah?.

Lepas aku stater motor, aku ambil uang asal cabut di dompet, mas buat beli Pizza! Aku pergi.


Pas beli rambutan tadi, Alhamdulillah, yang keambil yang 20.000, bukan yang cepek. Makasih atas pelajaran dedikasinya mas-mas parkiran! Parkiran yang ada di, di jalan yang dibangun mendampingi jalan layang ke BORR. 

Rabu, 12 Februari 2014 Leave a comment

Axe

Jarang-jarang aku nulis beginian di sore hari. Kecuali, kecuali apa yah? Kecuali sekarang. He. Aku lagi nyumpal telinga pake headset, yang headsetnya keluar suaranya, aku lagi seneng sama lagunya Gigi, Hati yang Fitri, lagunya yang disponsorin sama Djarum, itu loh lagu lebaran 2013. Lebaran yang tema warnanya putih biru, aku hanya pake training merah dan kaos bulutangkis untuk itu, hari-H lebaran.  

Nak, kamu harus tau bahwa seneng punya baju baru pas lebaran itu ndak papa. Sebelum hal-hal kecil bukan prinsipil sudah tidak bisa lagi membawa kesenangan.

Saat itu berarti kamu sudah mulai memikirkan deodoran apa yang cocok untuk ketiakmu. Sampai sekarang belum nemuin deodoran rivalnya Rexona, emang ada yah? Saat itu kamu sudah berpikir apa prospek kerja yang ada, ketika kamu memilih sebuah program studi untuk kuliah mu. Dan sekarang tersadar bahwa prospek kerja adalah hal-hal yang dibuat oleh pihak penawar program studi, entah perguruan tinggi atau agensi pemasaran program studi (emang ada? Ada loh, lah yang sering ngadain pameran-pameran perguruan tinggi (kebanyakan luar negeri) itu apa?). Dibanyak-banyakin, ini akan mebuat anak-anak SMA polos seperti kamu terbujuk.

Huh, seperti itu?

Mungkin iya. Tapi idealnya ndak. Sebuah ketertarikan bukan didasarkan pada hal yang bersifat fisik semata. Bukan pada prospek kerja. Agak eksodus kalau ketertarikan misalnya ketertarikan pada sebuah jurusan didasarkan karena logo jurusan itu. Eh bisa aja kan jurusan punya logo branding gitu. Beberapa departemen di IPB punya logo branding kayak ITP dan AGH. Aku ndak tau kalau yang lain. Aku pengen ketemu pak Rimbawan terkait logo branding ini. Abis Milo ku abis dan Banjir Jakarta surut.

Malam-malam ku bukan untuk menjaring orang. Prime time twitter bagi sebagian orang adalah saat membagi, apa saja. Apa saja yang bisa dibagi lewat twitter. Beberapa inspirasi. Beberapa yang lain kode dan jaring. Yah, sambil (tanpa sadar, ndak pake eksplisit bilang) meninggikan diri, itung-itung nambah follower. Bukannya salah satu indikator pemimpin adalah punya banyak follower?. Begitu kata Bang Bachtiar. 

Aku masih percaya, saat merasa lebih dari orang lain, itulah klimaks karir.

Ketertinggalan sebenarnya memberikan aku banyak kesempatan belajar, sayang aku ndak terlalu banyak belajar. Aku memang kadang sudah terlalu sombong sehingga ogah lagi untuk mengosongkan gelas. Yang ada hanya eksodus ini, eksodus itu, target ini, ke lounge ini, itu. Tapi apa? Bahkan belajar bermanfaat saja ndak. Masih banyak urusan pribadi menyergap diri ini. Kadang realitas memang, ah agaknya bukan kadang, ndak bisa disalahkan jug akalau realitas menjelma menjadi sesuatu yang dihamba.

Melangkah kecil sekecil sambil mencoba belajar naik sepeda untuk mengejar ketertinggalan adalah satu-satunya pilihan yang tersedia. Persetan dengan gengsi dan omongan orang. Bahkan presiden pun harus menerima caci saat meluncurkan buku. Apa yang salah coba?. Juga Jokowi yang dicibir lewat hashtag #bantuJokowi. Ah, antum akh, antum kira anak ndak tau?. Tuh kan, aku songong.

Allah, jadikan kami orang yang ndak terlalu banyak memikirkan diri sendiri.  


Kamis, 23 Januari 2014 Leave a comment

Oat

Ini aku habis baca koran Kompas. Kemaren, 2 hari yang lalu, aku punya uang 20rb minjem (maksa) dari Teguh, buat beli makan siang (porsi besar) 10 ribu, sisa 10 ribu, besoknya aku beli Kompas 3,5rb, jadi sisa 6,5rb. Terus gimana? Ya ndak papa kan? Toh kamu udah biasa idup susah. Tapi aku ndak akan mbiarin asupan protein, zat gizi makro dan mikromu defisiensi. Bahagia ndak harus naik CRV toh? Bisa ERTIGA atau cukup naik, naik maqam. Aku ndak ngerti banget esensi tingkatan maqam ini apa? Toh aku juga bukan termasuk orang yang mengedepankan orang lain hanya karena indikator yang aku buat, yang orang lain buat, bahkan yang kami buat. Indikator yang ndak pernah lepas dari tendensi manusiawi.

Ndak perlu kan bergaji sebesar penyerang Sergio Kun Aguero untuk menjadi juara balapan Tamiya. Sering-sering aja main sama Kak Awal, siapa tau diajarin cara ngelilit dinamo supaya Tamiya nya jadi kuenceng. Aku sama Kak Awal satu Asrama. Pas Asrama dulu aku sering banget tidur abis subuh. Kecuali kalo lagi ada syuro, syuro fakultas. Sekarang udah ndak ada syuro, tapi frekuensi tidur subuh udah jauh berkurang. Waktu ndak akan keulang, jangan pernah lengah, lakukan yang lebih bermanfaat dari sekedar nidurin baju yang belum disetrika.

Aku inget dulu aku ndak seneng banget makan namanya Buncis. Ah, idup di panti dengan sedikit paksaan menu makanan, kalau ndak mau ya ndak usah makan, kurang asupan kalori, ndak ranking 1, akhirnya logika itu jadi makan buncis. Aku sering mau kok walau cuma dikukusin buncis, dikukusin wortel, asal sama sambel goreng teri, sama nasi anget, sama air putih banyak-banyak. Ndak harus makan Quaker Oat yang haraganya sama kayak 4 kali saldo Multitrip ku sekarang hanya untuk memenui asupan 600g serat. Kita selalu punya pilihan, paling ndak memilih untuk ndak memilih.

Aku juga selalu percaya bahwa kualitas air minum isi ulang dan yang Asli AQUA atau Prima itu ada. Paling ndak, lihatlah dari tisu sanitaizer yang satunya bisa dibuat burung2an karena lebar, yang satu ndak. Bundaran HI udah beres loh renovasinya. Terakhir lewat situ aku duduk di kursi mobil sambil denger orang maki-maki. Karena salah balik arah. Akhirnya mbalik jauh sampe puteran Senayan haha. Ini WIN-HT kayak ndak punya konsultan politik, buat acara di tv-nya, pake tagline Kuis Kebangsaan sama apa gitu satunya, aku nontonnya, mending aku patah hati dah, eh ndak ding, mending non, eh mending patah hati deh dari pada nonton acara ntu.

Kota Batu kok namanya Batu yah? Padahalkan banyak Apel bukan Jambu Batu? Apalagi Jerawat Batu. Mungkin karena Banu pernah kesana. Banu, Banu Adi Permana, kepleset jadi Batu. Alhamdulillah, mungkin keberanian diperlukan awalnya untuk menawarkan pengelolaan bandara ke pihak ke 3, bukan lagi AP 1 atau apalagi AP 2. Manusia ngemprah, tanpa tanah warisan hanya akan membeku tanpa keberanian. Keberanian yang membuat kaki ini meraba untuk melangkah, walau sering terseok.

Aku menunggu besok untuk motong rambut, karena hari baik, jumat. Untuk mu, tiap hari termasuk hari baik kan? Kenapa masih (anggaplah, betah) menunggu?

Jumat, 27 Desember 2013 Leave a comment

Sampdoria

Ini bukan pertama kalinya aku ngupas mangga. Dulu kecil aku sering. Sebulan terakhir aku lebih sering deh. Tapi, pas inget, kalo aku pernah liat video Indonesia Satu-nya Net TV yang edisi Ridwan Kamil (RK), istrinya RK yang ngupasin mangga yang mau dimakan sama RK. Aku jadi gimana gitu, secara kan aku lagi ngupas mangga. Aku juga jago menakar timbangan tanpa timbangan. Aku bisa nunjuk mana Sarden yang 155g mana yang 160g mana yang 220g. Aku emang jago.

Tapi aku ndak jago kalau dimintai pendapat sesuatu yang bijak. Ah, itu temen dari Trainer ABCO kayaknya salah deh kalo bilang aku cocok jadi trainer motivasi. Gilirian mereka nulis idola idup orang-orang keren macem Sergio Kun Aguero, Sandiaga S.Uno, Ridho Sihaloho aku masih nulis Maudy Ayundya atau Melody JKT48. Tagline hidup ku ndak kayak mereka juga, ndak epik kayak ‘sang pembuat jejak’, ‘sang penakluk’, ‘sang penebar benih’ dan tagline epik2 laen. Aku lebih milih; ganteng bergelombang, berapi-api. Bahkan aku baru memikirkan apa arti tagline tersebut setelah 5-6 bulan tagline itu kupake di blog ini.

Dulu mamah sering masakin aku sarden. Kata mamah biar aku pinter. Sayangnya aku ndak pinter, aku malah jadi ganteng. Mamah juga bilang kalo minyak ikan bagus buat jantung ku. Ini bener loh, entah mamah baca dimana, di Scorpus atau Lancet. Yang jelas mamah dari pertama kali pergi dari jurusannya udah ndak pernah ketemu dan berhubungan lagi sama almamaternya. Kalau ada reuni-reuni di angkatan jurusannya gitu mamah ndak ikut. Mamah Cuma rajin ikut pengajian Aisyiah. Kadang sambil bawa doa dari anak-anaknya. Mamah juga rajin nraktir aku bakso 6 bulan sekali, setiap aku abis bagi raport. Setelah mamah dipanggil kedepan untuk nerima penghargaan orang tua murid ganteng & berprestasi. Aku. Tapi, dibanding kalian mah, apalah aku ini, cuma warung kelontong kecil di tengan Hipermart Botani Square.
 
Buktinya, kemaren malem sampe dini aku deg-degan sampe keringetan, paginya jantungku sehat-sehat aja. Siangnya tetep pulang untuk tidur 1 jam dari abis sholat dzuhur sampe jam 1. Siangnya juga aku tetep ngetik dengan banyak typo. Tetep dengerin Gubrak-Intan Nuraini. Tidur siang adalah obat mujarab bagi cowok yang punya banyak fans. Eh bukan, rasanya kalau udah bangun dari tidur siang jadi seger lagi. Kayak mandi di Kali Serayu.
 
Masa kali serayu adalah masa SMP. Masa dari pelarian kandang bebek. Berenang adalah pilihan terbaik, walau sendiri, walau mendung diatas sana. Kedung ombo, sampe sekarang belum berhasil menyentuh dasarnya. Ah iya, baru diawal kalimat ini aku sadar, mungkin berenang di kali serayu ini yang buat aku ndak pernah kena asma waktu SMP. Sekarang, punya utang sedikit aja udah Asma. Hu.
 
Tentang menjatuhkan pilihan, kita bukan tidak bisa berbalik, namun berbalik hanya akan membuat bumi makin panas. Berbalik, lalu stress, lalu makan banyak sambil liat tanding klub bola yang biasanya ndak pernah dilihat macam Sampdoria atau Levante, lalu produksi pangan harus banyak, lalu pestisida yang digunakan makin banyak, lalu defek lingkungan akibat pestisida makin banyak, lalu global warming, lalu bumi makin panas. Tuh kan berbalik, menilik lama-lama keputusan yang dibuat sambil menulis-nulis di atas pasir pantai Anyer, hanya akan membuat langit makin panas.

Menjalani adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh. Masih terlalu dini kalau kudu menyebutkan pohon apa saja yang akan ditanam di halaman rumah beserta pupuk yang harus dibeli bukan?. Lihat saja Rekso Grup yang sekarang sudah punya Mc Donald’s setelah sebelumnya hanya konsen di produk minuman; teh dan air mineral. Bukankah awalnya mereka hanya melangkah?. Kita sama saja kan?, mungkin dengan menambah; melangkah dengan kaki kanan, dengan bismillah, setelah sebelumnya sudah lari 2,2 km dan shalat dhuha. 

Kamis, 05 Desember 2013 Leave a comment

Wonosobo

Menjahtukan, jatuh? jangan jatuh deh, apa ya, memutuskan he, pilihan kadang emang ndak beralasan, ndak berasumsi. Aku ndak tau juga sih kalau malem ini bisa dingin banget mungkin ini adalah jalan rezeki bagi penjual wedang ronde di alun-alun Wonosobo atau Bandrek di pertigaan Bara. Pertigaan dimana ada pos polisi lalu lintas tapi ndak pernah aku liat pos polisi-nya nyegat motor atau pengendara kendaraan lain.

Mungkin ini pilihan yang dijatuhkan Polisi Lalu Lintas itu bahwa dirinya ndak ingin jadi bahan sumpah serapah penjual Bandrek (?). Atau mungkin ada aturan legal tertulis bahwa Polisi Lalu Lintas ndak boleh nyegat motor atau pengendara kendaraan lain di Pertigaan Bara. Kayak semacem undang-undang khusus teritori gitu.

Masih inget pas lebaran kemaren. Pas mamah lagi cantik-cantiknya. Aku nonton TV di ruangan mamah. TV yang cuma idup selepas subuh sampe jam 10. Liputan tentang Balloteli. 

Balotelli malah milih nendang pake tumit walau berdiri cuma 2 meter di depan gawang klub mana gitu, aku lupa. Mungkin hanya main-main, mungkin juga itu sebuah kesengajaan akan implementasi congak atau songong, walau dalam laman resminya Balotelli mengatakan bahwa ini hanya sebuah kendaksengajaan. Akibatnya? Yap! Akhir musim, City mendepak Balotelli di Milan. Eh pas di Milan dia jadi Bagus. Eh tapi belum bisa mendongkrak Milan dari kinerja ngemprahnya musim ini. Asumsi aku sih, ndak akan ada efek Erik Thohir jadi presiden Inter ke Indonesia. Semoga ada yah.

Hidup memang berserak akan asumsi yah?

Dari kecil aku adalah penyuka sepak bola. Aku sering menang taruhan batagor waktu SMP. Aku SMP runner-up juara umum. Di Wonosobo, SMP 2 Wonosobo. Tempatnya dingin, tapi anehnya masa-masa SMP adalah masa dimana aku ndak pernah ashma. Haha. Tapi kok aku ndak pernah punya kecondongan akan satu atau 2 klub bola. Karena orang-orang keren yang punya follower banyak di twitter pada punya klub bola di Idola. Akhirnya aku ikut, duh, lemahnya pendirian diri ini.

Bingung kemudian, karena ya tadi, aku ndak pernah punya kecondongan akan mana klub bola yang aku harus dukung. Waktu SMA aku sempet jadi simpatisan PKS. Pernah ikut pawai Kuning Item Putih, jadi aku pilih Dortmund sebagai kulub pertama yang aku paksa aku menyukainya, mengidolainya. Eh sebelum Dortmund melejit sebagai runner-up Liga Champion aku udah rela menyukainya. Buktinya, walau sudah tidak jadi simpatisan PKS, aku tetap suka kuning item-nya Dortmund. Putihnya? Warna gawang dan garis pembatas lapangan bola kan putih?.

Karena harus punya gacoan di Liga Premier Inggris, liga yang paling sering jadi bahan taruhan, akhirnya aku juga memaksa diri untuk menentukan pilihan klub Liga Premier Inggris harus ada yang aku idolai. Tottenham! Kenapa? Karena ku suka nama kiper-nya, Lloris. Konsonan sama persis di awal nama itu keren dan eksotis. Akhirnya aku suka.

Toh walaupun Lloris udah ndak sekeren dulu, tapi aku tetep suka Tottenham kok. Agaknya, nanti malem aku harus cari alasan baru untuk jadi alasan pas aku ditanya kenapa suka Tottenham. Tapi apa itu perlu? Ndak lah ya. Ya seperti mendadak suka CRV karena sering liat di parkiran kosan. Bukan pandangan pertama kan?.  


Mungkin juga sama seperti menjatuhkan pilihan pada mu, ndak sampai harus jawab detail ‘tanya kenapa’ dari orang-orang kan? Tapi aku siap kok untuk konsekuensinya. Kamu juga yah. 

Rabu, 27 November 2013 Leave a comment

« Postingan Lama

Arsip Blog