Opsi


Seberat apapun beban, dunia tetap akan tetap berputar. Elektrik. Otomatis. Life must go on :D.

Sayangnya kadang idup ini ndak bercabang kayak gang di depan asrama. Hidup hanya menyisakan satu opsi untuk diambil, mau ndak mau harus diambil. Opsi lain hanya berlaku bagi individu lain. Opsi yang tersedia bagi tiap-tiap orang berbeda. Tergantung spesifikasi masing-masing.
Apakah ini ndak adil?

Kalau bilang ini adil, rasanya ini hanya berlaku pada lingkungan homogen. Lingkungan yang memiliki opsi. Memiliki banyak cara untuk menikmati susu asam dan pizza. Sementara lingkungan lain, yang terbiasa dengan bengkuang sama sekali ndak  berusaha mengatakan itu. Susah.

Ternyata hampir 21 tahun idup belum membuat diri ini sebagai pengambil keputusan yang baik. Masih sering bimbang. Galau. Masih sering bengong malem-malem sambel dengerin lagu-lagu mellow menyayat hati. T.T

Kalo lagi naik bis, dengan kantong tipis, sering mikir gini, “hidup jahat yak, di satu bagian manusia, ada yang Cuma punya sedikit pilihan, bahkan hanya 1 pilihan, menyakitkan pula, tapi di sisi lain banyak manusia yang punya banyak pilihan, semuanya menyenangkan pulan”.

Itu kalau lagi pesimis.

Tapi dipikir-pikir ndak juga kok,

Mentari pagi tetep ngubah Pro-Vitamin D jadi Vitamin D siap pakai, di badan dan tulang semua orang, ndak pilih-pilih, mau dia punya banyak pilihan menyenangkan atau sedikit pilihan menyakitkan.


Selasa, 29 Mei 2012

Posting Komentar

Arsip Blog