Opsi

0 komentar


Seberat apapun beban, dunia tetap akan tetap berputar. Elektrik. Otomatis. Life must go on :D.

Sayangnya kadang idup ini ndak bercabang kayak gang di depan asrama. Hidup hanya menyisakan satu opsi untuk diambil, mau ndak mau harus diambil. Opsi lain hanya berlaku bagi individu lain. Opsi yang tersedia bagi tiap-tiap orang berbeda. Tergantung spesifikasi masing-masing.
Apakah ini ndak adil?

Kalau bilang ini adil, rasanya ini hanya berlaku pada lingkungan homogen. Lingkungan yang memiliki opsi. Memiliki banyak cara untuk menikmati susu asam dan pizza. Sementara lingkungan lain, yang terbiasa dengan bengkuang sama sekali ndak  berusaha mengatakan itu. Susah.

Ternyata hampir 21 tahun idup belum membuat diri ini sebagai pengambil keputusan yang baik. Masih sering bimbang. Galau. Masih sering bengong malem-malem sambel dengerin lagu-lagu mellow menyayat hati. T.T

Kalo lagi naik bis, dengan kantong tipis, sering mikir gini, “hidup jahat yak, di satu bagian manusia, ada yang Cuma punya sedikit pilihan, bahkan hanya 1 pilihan, menyakitkan pula, tapi di sisi lain banyak manusia yang punya banyak pilihan, semuanya menyenangkan pulan”.

Itu kalau lagi pesimis.

Tapi dipikir-pikir ndak juga kok,

Mentari pagi tetep ngubah Pro-Vitamin D jadi Vitamin D siap pakai, di badan dan tulang semua orang, ndak pilih-pilih, mau dia punya banyak pilihan menyenangkan atau sedikit pilihan menyakitkan.


Somay Freddy

0 komentar

Sepulang ngelesin Kimia Mizan tadi, pulang, iseng-iseng mampir Gramedia Botani Square. (Kayak biasa) Mau baca-baca majalah gratis yang udang dibuka segelnya :p. Kadang-kadang ada beberapa majalah politik yang udah (entah 'di' atau 'ke')-buka segelnya. 

Karena ndak bawa STNK, motor kuputuskan untuk kuparkir di luar. Di bagian parkiran ilegal, di depan deretan warteg Baranangsiang. Deret-deret miring motor berbaris rapi di tambah 1 motor yang aku pake. Sip, rapi, ringkas dan bagus!. 

Mau masuk ke bagian kompleks Botany, rada tertegun. Bentar. 

Ada cekikikan mbak-mbak pake seragam. Seragamnya khas, ada emblem salah satu logo Department Store warnya kuning genteng, dengan rok biru mini yang ndak gampang kusut. Ujung kaki sampe batas roknya pake stoking item. *sampe sekarang aku menanyakan ini stoking emang fungsinya apa yah?*. Bajunya ketat, sampe kalau aku emang boleh liatin lebih seksama lagi, aku bisa nebak lingkar pinggangnya.  

Sepatunya item kelimis dengan ujung hak sepatu yang udah agak kotor karena keluar dari arena 'lantai mewah' Botani Square, turun menjejak ke tanah becek parkiran depan warteg. Mengelilingi sepeda yang belakangya ada 2 boks kembar. Cet merah yang lekat di atas bok itu menginformasikan "SOMAY FREDDY". Mbak-mbak ini lagi beli Somay.

Dari tampang, masih pada muda, sekitaran umur lulusan SMA. Umur-umur aku lah. Mengisi waktu antara lulus SMA sampai menikah ketimbang nge-rempongin orang tua, membanting tulang di antara barang-barang mahal Botani Square. 

Gaji yang ndak seberapa *jika mengacu pada UMR dan kebutuhan hidup kota besar kayak Bogor, membuat mereka ndak punya pilihan lain selain makan makanan yang ndak jauh beda sama makanan mahasiswa tukang ojek atau becak. Somay-somay di dalem food court Botani, yang rasanya sama aja kayak yang diluar, yang sama-sama buat ngganjel perut, jelas bukan barang sepadan yang kudu ditukarkan sama beberapa lembar rupiah warna merah. 

SOMAY FREDDY adalah sebuah solusi untuk meminimalisir pengeluaran. Sisa gaji yang utama!. Sisa gaji yang (sebagian) dikirimkan ke orang tua di kampung merupakan sebuah pesan kesuksesan penuh makna tanpa banyak kata seorang anak rantau. Hingga menerbitkan senyuman-senyuman indah pada orang tua di rumah. Sebagian lainnya ditabung, modal mudik lebaran. 

Yang aku tau, seorang penjaga atau kasir diharuskan untuk ndak duduk selama bekerja. Pernah aku masuk ke bagian belakang sebuah toko buku terkenal, banyak pegawai-nya nggeletak sampe selonjoran. Ada juga yang kakinya diatas. Ndak banyak kata atau senyum yang terlontar kayak waktu mereka lagi di belakng komputer kasir, karena emang pada lagi merem. Tidur. Tiap detik istirahat begitu berharga.


#eh

Sekarang mbak-mbak itu masuk ke salah satu warteg cet ijo. 

Dirimu pahlawan mbak, paling ndak buat orang-orang tuamu, malu aku T.T