Little Heart: Aku (Ingin) Menjadi Penjual Susu (Itu)

"Susu segar, sussu... sussu..., susu segar, Asslamualaikum...susu segar ada tawar, cokelat, strawberry, asli fapet"

Lagi untuk kesekian kalinya aku dengar lagi suara yang begitu akrab di telngaku itu, lelaki tua nan renta, dengan tas di pundak kirinya, menyusuri koridor kampus ku, berjualan susu segar produksi salah satu fakultas di kampusku...

Saat itu, aku bisa merasakan dingin yang menyelimuti tubuhnya lewat temaram jaket merah yang basah karena hujan yang baru mendera tubuhnya, aku juga bisa merasakan lelahnya badan itu, lewat sudut kemiringan tubuhnya yang semakin tajam,
tetapi yang membuat air mata ini hampir menangis, aku juga bisa merasakan kebahagiaan yang direfleksikan lewat senyumnya...

Oh...untuk kesekian kalinya aku berkaca pada diriku sendiri, aku yang juga hidup sulit, aku yang juga perlu membanting tulang untuk sekedar mengobati usus buntuku, dan mencegah asmaku agar tidak kambuh (lagi), namun aku malu pada orang tua itu, aku jarang-bahkan tidak pernah-tersenyum dan menikmati hidup, walau terkadang sulit...

ternyata aku belum benar-benar sadar sebuah bahwa ketenangan batin yang mewakili kebahagiaan hakiki, buka diraih dengan jalan-jalan kepuncak, yoga, ngenet, makan di Mc Dy, Ke Botany Square, ataupun yang lain tetapi dengan mensyukuri apa yang kita dapat,

walaupun itu sedikit....

Kamis, 25 Februari 2010 Leave a comment

Lagu Kangen Band: Antara Romantis dan Nasionalis (Tapi Saya Bukan Penggemar Kangen Band Loh)

Tulisan ini dibuat, berawal dari kunjungan ke kost salah seorang teman. Di kamarnya, ia sedang mendengarkan lagu kangen band yang berjudul juminten. Dia menunjukkan padaku bahwa lagu tersebut unik. Dengan rasa penasaran yang cukup tinggi, saya coba cermati dimana letak keunikan lagu tersebut.

Berikut ini lirik lagunya:

gong ning nong ning nong ning gong [4x]
* juminten kuliah di washington
kalau malem main ke Las Vegas
juminten ayu mempesona
sampai ngelewatin christina aguilera

** juminten hurry up and come back
jangan lama-lama ya di amerika
ku tunggu kau sekian lama
sampai ku tanya sama kepala desa

reff:
cepat-cepatlah pulang ke indonesia
ku sudah nggak tahan ingin jumpa
cepat-cepatlah pulang ke indonesia
indonesia raya merdeka

sekali merdeka tetap merdeka
sekali merdeka tetap merdeka

repeat *, **
repeat reff [3x]

sekali merdeka tetap merdeka
sekali merdeka tetap merdeka

gong ning nong ning nong ning gong [2x]

juminten, juminten

Sekilas saya baca syairnya, lagu tersebut mengisahkan seorang laki-laki yang tinggal di Indonesia merindukan wanita idamannya yang saat itu tengah berada di Amerika. Laki-laki tersebut ingin sekali wanita idamanya kembali pulang ke Indonesia, karena sudah rindu.

Kangen Band, hampir sama dengan band-band baru lain yang membawa jenis musik melayu dan dengan syair-syair yang lugu dan sederhana. Syair tersebut mudah dipahami dan musiknya pun membuat orang yang mendengarkannya tergoda untuk mengikuti alunan nada-nadanya. Makanya tidak heran jika kangen band, wali band, dan ST 12 begitu digandrungi anak muda Indonesia saat ini. Mereka nampaknya ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa lagu itu tidak harus unik dan syairnya puitis, tetapi bagaimana lagu tersebut bisa menginfluence para pendengarnya.

Kembali lagi ke lagu Kangen Band. Lagu yang berjudul Juminten tersebut unik dan aneh. Mengapa? Pada syair reff , disana ada dua semangat yang ditunjukkan. Pada bait pertama dari reff tersebut, menunjukkan keromantisan. Tetapi pada bait kedua, menunjukkan semangat nasionalisme.

Sejenak saya berpikir, apa hubungannya antara keromantisan mereka dengan semangat nasionalisme? Apa ndak ada kata-kata lain untuk hanya menunjukkan keromantisannya? Ataukah justru disitulah motivasi mereka, yaitu ingin membuat sesuatu yang unik.

Apa mungkin kesimpulannya, “Romantis boleh, cinta-cintaan boleh, sayang-sayangan boleh, asalkan semangat nasionalisme tetap ada.” Ah, semoga saja seperti itulah kesimpulan yang ada pada lagu juminten tersebut. Betapa banyak anak muda yang dibuat mabuk dengan suasana cinta, suasana pacaran, sampai-sampai mereka hedon dan melupakan semangat nasionalisme.

Selasa, 23 Februari 2010 Leave a comment

Septian Suhandono

17.57

Nama : Septian Suhandono
TTL : Purworejo, xx Mei 1991

"Yan, kamu lahir bulan September yah?"
"gak kok, Mei"
"loh kok namamu Septian, kan biasanya dari kata September?"
"Oooohhhh, atau kamu anak ke tujuh?"
"gak, anak pertama kok"
"kok nammya septian, kan tujuh = sapta"
"gak juga kok"

Mungkin banyak yang menanyakan kenapa nama saya Septian Suhandono. Yah sebuah nama yang gak jelek-jelek amat (mungkin). Bisa di bilang keren...

Versi I:
Menguraikan mengapa nama saya Septian, alasanya saya lahir tanpa direncanakan (gubrak...jangan-jangan...) oh bukan. Saya lahir sebelum waktu yang ditentukan. Lebih kerennya, saya lahir prematur jadul (tahun 1991 loh, waktu turki di reformasi sama Kemal Attaturk). Yah saya lahir tidak 9 bulan 10 hari (kandungan manusia normal), bulan mei saya lahir, kalau di hitung 9 bulan 10 hari, taram...maka saya lahir bulan September, yah makanya namanya Septian. Kesimpulan ini hasil kesimpulan sendiri loh, bukan dari ibu atau bapak.

Versi II:
Septian = "Sepi dalam penantian" #&^#*@@6&%&$#&*(**#&&(Sulasmi, 1991)

18.02

Senin, 22 Februari 2010 Leave a comment

Khayalan, Indikasi Kenyataan

11.49

sms masuk
"mas, rumah kebakaran"

desssh...tertunduk lesu selama kurang dari 3 detik, lalu kepala tegak kembali, berjalan tergesa menuju sebuah tempat di pojok kampus, ATM Center, sembari menekan keypad hp,
"Astaghfirullah, Innalillahi"

Sampai...masuk ke ruangan yang sering saya gunakan untuk "ngadem" di tengah kota hujan Bogor yang panas. Menekan tuts pada mesin ATM,


<masukkan no rek yang dituju
masukkan nominal trnsfer
Rp XXX.XXX, 00
Transaksi berhasil...

keluar dari kotak dingin itu, sambil menekan tuts hp ku,
"mah ambil aja duit di..........., maaf mah, mas cuma punya segitu, dicukupin ya mah"

breg...bersalah...
perjalanan ke rumah kedua atau pertama yah(sekret FORCES)berkhayal...
Pengen punya rumah sederhana, dasar rumah ubin yang dingin, halaman dengan bunga yang tak gampang rusak, jendela yang leber, atap genteng orange tanah liat asli, dinding kuning (seperti cat di Sekolah-sekolah). 

Namun, dalam rumah tersebut merupakan bagian sebuah kompleks gedung denga pagar pembatas yang tingginya 2 meter di bagian depan dan 3 meter di sekelilingnya. terdapat plang (di depannya, kokoh, walaupun terliat agak tua, cat hitam bertuiskan "Panti Asuhan Impian Anak Negeri". Halamannya dipenuhi dengan rumput hijau yang agak rusak karena sering dipakai main bola, di samping kanannya nya ada kebun dengan tanaman sawi pokcoy, kangkung dan buncis, yang daunya terkadang bolong dimakan ulat, karena ditanam tanpa pestisida kimia. 

Di samping kirinya ada gedung (seperti gedung kelas) namun bedanya berisikan ranjang susun berwarna merah tua. Di atas ranjang, terdapat kasur busa dengan sprei bunga-bungan berwarna merah. Rapih, mulus, dengan bantal bercorak serupa. Menempel di dinding gedung itu menempel lemari yang berisikan buku pelajaran sekolah dasar, tas sekolah, berderet-deret.

Setiap hari, sebelum subuh menjelang, saya akan membangunkan 53 orang anak-anak saya, suaranya khas, serak, tua dan berat. 

Setiap hari saya akan melihat anak-anak telah siap memakai pakaian sekolah, berderet di depan meja panjang 
"Allahumma bariklanaa fimaa rozaktanaa wakiinaa azabannar"
"Makan yah, makan bu"
maka dimualailah acara yang sakral itu, sarapan, dengan nasi goreng sawi (hasil kebun) buatan istriku, tak banyak cakap anak-anak makan, cepat, lahap tanpa sisa. 

Menjelang senja akan terlihat keramaian di halaman, teriakan anak-anak main bola, dan teriakan isteriku yang memanggil mereka untuk lekas mandi. Di kebun aku dan sebagian anak-anakku memberi tetesan air pada tanaman-tanaman yang sudah seharian terjemur, anak-anak berderet menjinjing ember air dari kolam ikan gurame kami, 

Selepas maghrib, terdengar ramai suara bacaan ayat-ayat Al Qur'an dari mushola kami, terdengan pula suara beratku, yang tak berhenti memotivasi anak-anakku agar "tidak minder" pada orang luar. Kukatakan pada mereka:

"nak, ayah dulu juga seperti kalian, persis, namun dengan sedikit perjuangan saja, dan guyuran Ridha Allah yang sungguh luar biasa, ayah bisa jadi seperti ini"

tak ingin muluk khayalanku, aku hanya ingin mendirikan Panti Asuhan, sekedar Panti Asuhan untuk anak-anak yatim piatu, dengan dana murni dari perasan keringat kerjaku,

Amin ya Rabb...

Teringat aku yang sekarang belum mampu membahagiakan Mamah, Alin dan Reka, yang begitu mengharapkan mas sekaligus bapaknya ini,

Ya Rabb...
Sungguh besar dosaku...

sms masuk
"mas tangan alin kebakar"
....

12.31

Minggu, 21 Februari 2010 1 Comment

Blog Juga Pahlawan Bangsa (Mungkin)

15.03

Wow... dah lama (hampir 2/3 usia kandungan) gak nulis namanya ngeblog. Terakhir ngeblog pake ohlog.com tapi eh...malah lupa password nya apa. Tapi gak papa sekarang dengan niat yang menggebu saya coba untuk ngeblog (lagi).

Entah, saya juga gak terlalu yakin dengan blog yang ini. Mungkin nasibnya akan sama dengan blog saya lainnya, atau mungkin lebih parah seperti friendster saya yang sedikit norak dengan gambar artis Thailand di backgroundnya. Dapat dilihat, dengan nasib semua site saya yang demikian maka dapat dipastikan: saya gak punya motivasi khusus dalam ngeblog. Satu yang selama ini menjadi dasar pijakan saya untuk terus menengadah ke atas, lebih spesifik lagi untuk sedikit mengerti tentang internet "walau miskin yan, kamu jangan kalah sama orang kaya".

Tadi waktu mulai ngeblog, sempet terkejut mengetahui kode verifikasi dikirim ke hp keren... (karena di email gak dateng-dateng). Andaikan saya punya sistemnya, bisa pake buat jadi provokator biar semua orang, jadi suporter Bayern Munchen dan Persilas (Persatuan Sepak Bola Indonesia Lamung Selatan).

Ternyata ngeblog juga merupakan pahlawan bangsa. Dengan makin banyak bangsa Indonesia yang ngeblog maka akan kelihatan lah "eksisnya" orang Indonesia di lingkup global dunia maya. agak miris memang ternyata pengguna fasilitas Internet di Indonesia hanya sekitar 3% dari seluruh jumlah penduduk di Indonesia. Ini pun kebanyakan "ngenet" hanya untuk facebooking. Miris. Dengan makin eksisnya blogger nasional di kancah dunia maya maka jalan untuk keluar dari kungkungan tempurung peradaban akan semakin terkuak. Tentunya dengan tetap mengindahkan nilai-nilai agama dan sosial.

Selain itu, ngeblog ternyata juga dapat menghemat kertas. Dengan menggunakan blog sebagai media penulisannya maka seorang penulis tak kan lagi menulis dengan pena tinta yang berat dan lembaran kertas yang kuning klasik. Tentunya ini akan disambut dengan teriakan membahama dari jajaran departemen Konservasi Sumber Daya Hutan (KSHE) yang menginginkan keperawanan hutan dengan pohon-pohonnya yang merupakan bahan dasar kertas, tetap terjaga.

Ada lagi, bahkan yang paling penting. Blog merupakan sarana untuk transfer informasi. Dengan blog maka informasi dengan cepat akan terdifusi ke berbagai macam penjuru dunia.

Oke, keep blogging dan jadilah pahlawan bangsa (pasti)...

15.23

Sabtu, 20 Februari 2010 Leave a comment

Postingan Lebih Baru »

Arsip Blog