Nostalgia Wonosobo

Yak, aku juga manusia, manusia yang seneng sama sabun Gatsby warna biru item. Wanginya JANTAN dan ituloh harganya, harganya dibanding Lifebuoy atau Biore "sedikit" lebih murah!. Keren banget!. 

Selama 2 tahun masa putih biru-biru dan  putih abu-abu dihabiskan untuk dinginnya kabut kota saat pagi hari. Bertolak dan menetap di (kota) Wonosobo, kota yang memenjarakan masa 3/20 usia ku. Kota yang mengenalkan internet padaku. Kota yang membesarkan benih-benih asma di paru ini. Kota yang memberikan mata ku pengetahuan akan sebuah bentuk pasaraya. Kota tempe kemul. Kota yang (sangat) indah. Kota yang mengenalkan pada ku, deh, pake kata apa ya nyeritainnya. Kota yang mengenalkan padaku rasa "tertarik" pada (apa yang disebut dengan) kaum hawa. #blakblakkan

SMP 2 Wonosobo dan SMA 1 Wonosobo, kawah candradimuka, SMP dan SMA terfavorit di bilangan karasidenan Kedu!. Liburan kali ini hanya lewat di jalan depannya. Namun, sudah cukup untuk mengingatkan masa-masa di dalamnya. Yang pendiam, yang malu-malu, yang jarang jajan, yang ndak bisa main basket, yang memilih membaca koran atau nonton TV di perpus saat kosong dan yang (agak) pintar. Huehehehe. 

Semua rasa terserak di lapangan pasir, lapangan voli, lab komputer dan musholanya. Tentang rasa tertarik? sampai saat ini masih diam, tertutup daun-daun malu. Akupun tak tau tentang rasa tertarik itu. Bahkan terkadang rada bingung, inikah yang disebut dengan "tertarik"?. #random

Ah sudahlah namanya juga manusia. 

BTW, dimana "dia" sekarang yak? Huehehehe. #cengengesan 

Jumat, 27 Januari 2012 3 Comments

Honda Supra X


Ternyata cinta yang menguatkan aku (Padi)

Temen-temen tau apa yang istimewa dari sebuah Honda Supra X? Ndak akan dibahas bagaimana kekuatan mesinnya, ndak akan dibahas masalah apakah irit atau tidak, ndak akan dibahas masalah begitu kaku (atau kah elegannya) striping-nya, namun mari kita liat kekuatan dan kelincahannya masuk ke sela-sela mobil yang macet!.

Bagiku Honda Supra X itu keren. Pertama kali dikeluarkan tahun 2004, masih mampu mengimbangi BMW C 200 Kompressor saat macet di pertigaan Bara. Kemampuan menyelipnya luar biasa untuk ukuran sebuah kendaraan yang kalau dijual ndak lebih dari 6 Juta. Kemampuan menyelip inilah yang membuat Honda Supra X menjadi pilihan utama tukang ojek di daerah rutin macet seperti Darmaga, Cibitung atau Cileungsi.

Kemampuan menyelip di antara kemacetan sungguh-sungguh menyibukkan mata dan pikiranku.

Sekarang, aku ingin menjadi Honda Supra X, yang beberapa striping-nya udah lecet, mengelupas karena beberapa ledakan emosi saat di luar kontrol, spatbor-nya udah agak melenceng dari tempat semestinya karena beberapa janji yang terlalaikan, sela-sela rantainya ada oli yang mengeras karena becanda yang berlebihan,

Lampunya agak redup, karena tak bisa 365x24 jam mendampingi atau membalas sms dalam waktu cepat. Sempat beberapa kali ban-nya bocor dan ditambal karena egois-memaksaan kehendak yang arogan sebenarnya. Kaburatornya agak kotor karena tak dapat mengimbangi rajinnya al ma’tsurat temen-temen.

Mohon maaf dan maklumlah karena, Honda Supra X tahun tua, banyak salah, karena Honda Supra X juga manusia. :D
Tapi, aku ikhlas jika semua fungsi ini di non-aktifkan, semua fungsi ini tak berdaya di tengah kepungan kepentingan, tapi tidak untuk satu fungsi, fungsi menyelip.

Aku ingin menyelip ke hati temen-temen, ke kehidupan temen-temen, (mencoba) menjadi solusi (sedikit sajalah, kalau banyak ya Alhamdulillah :D) masalah temen-temen.  

Agar ndak ada lagi kata-kata ndak mood ketika kau bangun dini hari.

*Kita ada di sejuk yang sama, di organisasi yang bukan apa-apa. Organisasi yang hanya berusaha membirukan samudra yang telah biru, organisasi yang tak bisa menjanjikan manfaat kepada anggota tapi malah menagih kebermanfaatan anggotanya, organisasi yang insyaALLAH bisa menjadi saksi atas sejumput kecil yang kita lakukan di dunia saat kita mempertanggungjawabkan waktu hidup kita di hadapan-Nya. 

Selasa, 24 Januari 2012 Leave a comment

The North Face vs Eiger


Ya Allah, perbesarlah rasa takut ku, takut untuk terlalu memperkaya diri sendiri dan takut untuk terlalu lama memikirkan diri sendiri. (sebuah SMS dari Sulasmi 2012)

Duh, udah keulang berapa kali, sms-sms mu itu mah, buat aku makin ngefans sama mamah!. Love you dah mah!. Timingnya pas banget, ngena banget, saat dibenturkan pada pilihan-pilihan yang sama-sama menggiurkan. Ibaratnya, 2 pilihan itu ibarat memilih tas punggung The North Face buatan luar negeri yang harganya sama kayak SPP 1 Semester dengan tas punggung Eiger buatan Bandung yang harganya di bawahnya dikit.

Keduanya sama-sama sporti, sama-sama warna item yang ndak gampang kotor dan sama-sama kalau ditarik talinya ndak putus, sama-sama kapasitasnya gede. Memakainya seperti menambah suntikan ke-PD-an yang membuat semangat meletup-letup besar. Memakainya seperti menjadi pemeran utama dalam film 127 hours yang ahli banget sama Grand Canyon!. Beuuhh!.

Pilihan harus dijatuhkan dalam waktu yang ndak lama, hanya tersedia waktu bada Maghrib sampe Isya. Ndak nyampe 47 menit.

Eh kalau dipandang dari permukaan, pilihan pertama mengandung gengsi berlebih loh!. Luar negeri gitu loh. Tasnya orang-orang kalau main film arcade. Pastinya menjajikan gengsi yang lebih besar dari gengsi yang dimiliki oleh orang Toraja yang menyembelih 23 kerbau saat sanak keluarganya meninggal. Pilihan pertama juga lebih mengundang  pandangan mata orang. Mana ada orang yang ndak melirik ketika di CV aku terlulis “Pemiliki Ransel Hitam Sporti merk The North Face”. Beuuuh.

Pilihan ke dua kalau dipandang dari permukaan (lagi) yaelah buatan dalam negeri. Yaeleh tas pasaran yang kalau disurvei sama anak Statistik berapa persentase anak IPB yang pake tas itu kayaknya hampir 43%, hampir separuhnya.

Tapi, kalau dilihat lebih dalem, pilihan kedua buatan dalem negeri boss!

Duh, kok tulisannya ngelantur yak! Jadi kayak tulisan tentang iklan-iklan #100%LoveIndonesia dari Kementerian Perdagangan.

Ketik sms “Maaf pak, saya ndak bisa dateng untuk menandatangai surat kontrak beasiswa. Saya punya tanggung jawab di organisasi yang sekarang saya pimpin”. Sembari keruntuhan berbagai kemungkinan untuk kena omelan di kampus akhir pekan ini, oh bukan kena omelannya besok.

Yak, menurutku, orang-orang keren itu kayak lilin. Yang ngerelain dirinya terbakar asalkan dirinya bisa buat ngerayain ulang tahun. Buat orang (baik yang ulang tahun ataupun yang ada di acara ulang tahun itu) seneng. Orang-orang model lilin juga percaya bahwa akan tiba saat-nya api pada tubuhnya ditiup, mati! dan dirinya tak akan habis.

Tak akan habis diri ini, hanya karena memberi sedikit atau banyak kebermanfaatan untuk orang lain.  

Rabu, 18 Januari 2012 Leave a comment

Belajar atau MATI!

Mari kembali mengingat, syarat untuk masuk dalam sebuah organisasi kemahasiswaan. Poin pertama, yang sangat ditekankan, poin krusial, poin yang tidak boleh dilanggar yakni "Mahasiswa Aktif bla bla bla". Syarat ini merupakan syarat mutlak, tidak seperti kelengkapan administrasi lain seperti CV atau Surat Keterangan Sehat yang deadline pengumpulannya dapat diperpanjang, (bahkan) beberapa organisasi kemahasiswaan tidak mewajibkan aspek ini.

Kadang kita (dan penulis tentunya) sering lupa bahwa sejatinya kita adalah mahasiswa. Mahasiswa diembankan untuk mengembangkan bidang keilmuan sesuai dengan subject yang mahasiswa tersebut ambil di awal perkuliahan. Saat lulus, mahasiswa harus menjadi scientific center of excellence, artinya mahasiswa harus siap menjadi solusi spesifik bagi masalah-masalah yang timbul dalam bidang keilmuannya. Mahasiswa solutif seperti ini dapat secara paripurna menguasai teori keilmuan bidangnya serta bagaimana teknik implementasinya dalam masyarakat.

Organisasi kemahasiswaan lebih ditujukan untuk mengasah kemampuan leadership mahasiswa. Artinya, aspek implementasi teori keilmuan mahasiswa sudah ditopang oleh kegiatan kemahasiswaan diluar ruang kelas (walaupun kadang banyak mahasiswa tidak menyadari urgensi ini). Lalu bagaimana dengan teori keilmuan mahasiswa itu sendiri?. Hal yang sering menjadi masalah utama bagi mahasiswa yang (sengaja atau tidak sengaja) diberi gelas "aktivis".

Karena sudah disibukkan dengan agenda organisasi (rapat, konsolidasi, event organizer dan banyak lagi) terkadang mahasiswa lupa akan jati diri mahasiswa itu sendiri, sebagai scientific center of excellence. Contoh kecil, seorang aktivis mahasiswa Ilmu Gizi yang pulang kampung "gelagapan" saat ditanya "makanan apa yang bagus untuk seorang anak bayi yang pilek terus menerus". Memang tidak dapat menggeneralisir semua aktivis  berpolapikir demikian, namun tak dapat dipungkiri juga, banyak aktivis mahasiswa yang demikian adanya.

Saat ini, tolak ukur yang dapat digunakan untuk mengetahui penguasan teori keilmuan seseorang adalah ujian mata kuliah. Terlepas dari kurang atau bahkan tidak representatifnya tolak ukur ini, namun penggunaan ujian sebagai tolak ukur menempati posisi paling sesuai dengan kebutuhan saat ini. Hasil ujian yang direpresentasikan dalam bentuk nilai dapat digunakan apakah seorang mahasiswa berhasil dalam menyerap materi keilmuan saat kuliah atau sebaliknya. Kalkulasi nilai ini lebih lanjut dilihat dalam bentuk Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). 

Kebiasaan yang sering terjadi pada mahasiswa bergelar aktivis beranggapan bahwa IPK bukan merupakan sesuatu yang penting. IPK tidak dapat digunakan untuk mengukur potensi sukses seorang mahasiswa di masa depan. Sekali lagi, tidak bermaksud menggenalisir semua pemikiran mahasiswa, namun tidak dapat dipungkiri banyak mahasiswa khususnya aktivis yang menggunakan pola pikir ini. 

Pemikiran ini tidak sepenuhnya salah. Namun, jika sudah sampai pada pemikiran bahwa IPK bukan merupakan sesuatu penting, ini jelas-jelas salah. IPK yang terakumulasi dari nilai-nilai ujian utamanya dan tugas-tugas perkuliahan merupakan tolak ukur yang paling representatif untuk mengukur kemampuan keilmuan seseorang. Kembali lagi ke pemahaman awal bahwa tanpa bekal keilmuan akan terjadi ketimpangan saat mahasiswa tersebut turun ke masyarakat dengan menyandang gelar kebesaran di spesifikasi masing-masing. Hal ini dikarenakan tak ada "sesuatu" yang dibawa (yang sesuai dengan spesifikasi keilmuannya) untuk ditransfer ke masyarakat. 

Komplementasi IPK baik dan leadership yang mumpuni merupakan syarat utama bagi semua lulus perguruan tinggi untuk siap menjadi agen transformasi di masyarakat kelak. Jika kemampuan leadership dipelajari dari organisasi kemahasiswaan, sekarang saatnya (kembali) belajar keilmuan masing-masing, simpel saja di ujian ini. Agar tidak mati!.   


   

Minggu, 01 Januari 2012 Leave a comment

« Postingan Lama Postingan Lebih Baru »

Arsip Blog