Mengganjal

Assalamualaikum wr. wb. ibu,
maaf menganggu, ada sesuatu yang mengganjal dibenak saya.

Begini bu, yang saya tau, hampir semua badan kepemerintahan (baik badan otonom maupun kementerian) memiliki dasar hukum yang semakin kuat dan lengkap dari tahun ketahun. Untuk kebijakan pangan dan pertanian saja tidak kurang dari 39 peraturan yan mengatur tentang itu, yang merupakan ranah kerja Kementrian Pertanian dan Badan Ketahanan Pangan, yang terdiri dari UUD, UU, PP, Perpres dan lainnya.

Namun implementasinya tidak sampai pada angka 30%, bisa sampai 30% saja sudah bagus! (Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Hukum dan Peraturang dalam Workshop Kementerian Pertanian @IICC 2011).

Ketika ditanya mengapa (selalu) ini terjadi?, jawabannya selalu sama dari waktu ke waktu, anggaran. Anggaran selalu menjadi masalah klasik alasan tidak terimplementasinya peraturan tentang pangan dan pertanian. (sebenarnya ini tidak hanya terjadi di Kemneterian Pertanian saja, hampir di semua badan Pemerintahan saya rasa).

Ada hal yang saya sangsikan. Apakah jika anggaran untuk Deptan dan BKP dinaikkan maka angka keberhasilan implementasi peraturan pangan dan pertanian yang sejalan dengan kemajuan pembangunan pangan dan pertanian akan ikut naik juga? Bagaimana jika kasusnya seperi pada Kemdiknas yang anggarannya sudah melambung sampai pada angka fantasti, 20% dari APBN! tetapi apa hasilnya? angka buta huruf masih 9% hanya berkurang 0,2% dari tahun 2004 (sebelum implmenetasi anggaran 20%) sampai dengan 2010 (saat implmentasi anggaran pendidikan 20% dari APBN)? (diolah BPS 2004 sd. 2010)

Adakah jaminan ketika anggran naik maka kinerja naik? terus terang, saya sangsi.

Bagaimana tanggapan ibu yang sudah sering bertatap muka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Kebijakan Pangan dan Pertanian?

Terimakasih atas penderahan yang ibu berikan.
Wassalamualaikum wr. wb.

Jumat, 30 September 2011 Leave a comment

Kembali Menjadi

Awan mendung akan menjadi putih kembali, kembali terang hingga jalan depan asrama berdebu kembali. Memekakkan mata.

Sedikit kecewa sih, sudah tak seperti dulu, tapi apa guna kecewa? kecewa bahkan tak akan membuat Arsenal ke tangga juara EPL musim ini, tetapi masih bisa musim depan. Masih ada harapan. Kecewa juga tak akan membuat Epson kembali berjaya di dunia per-printeran. Kecewa tak akan membuat buku Kiky menjadi Kiki. Kecewa tak akan membuat kereta berjalan kembali ke Stasiun. Bahkan kecewa tak akan membuat akselerasi pada glukoneogenesis.

Mengajarkan "a", memperlihatkan "a", hingga perlahan aku perlahan mengubah "x" menjadi "c", mencerna kembali "c" menjadi "b", akhirnya transformasi mendekati "a", bahkan telak aku "a". Presisten dengan "a", beberapa waktu, bahkan bersama memperjuangkan dan meneriakkan "a" di depan tanaman hias milik departemen AGH.

Pernah bersama mengatakan bahwa suatu keputusan yang salah bahwa Kaka pinda ke Real Madrid. Bareng juga mengatakan bahwa Laskar Pelangi merupakan film fiksi yang mengalami disparitas jauh dari realitas.

Masih ingat, ketika itu, minum, mengkonsumsi "es", sampai "es" pun menjadi "a". Semua dikonsep dan dipandang dari point of view "a". Intinya begitu tergila dengan "a".

Namanya juga manusia, perlahan menggelinding seperti roda milik mobil Webber, awalnya di samping kanan, kini di bawah, suatu saat mungkin di kanan lagi. Hingga aku melihat(nya) sekarang. Sangat subjektif sebenarnya, namun apakah ada yang lebih objektif dari subjektif?. Selayaknya "a" pun berubah perlahan. Mulai berhias dan menjadi "d". Tak apa lah toh aku masih punya Twitter.

Namun aku tetap "a", bersama kak Bowo dan mbak Tiwik. :D

Minggu, 25 September 2011 Leave a comment

Pick Up II (Italic)

Pandanglah desa dengan kacamata batang padi, begitu kasar namun dingin :D *huehehehe kata-kata gua melankolis banget.

Iseng-iseng, mau menyajikan kacamata batang padi khas desa, mengenai Perguruan Tinggi dan rating bintang yang diberikan kepadanya. Berikut pandangan orang kampungku rating mengenai perguruan tinggi *bisa sama bisa ndak dengan kampung yang lain, namun umumnya daerah pantai selatan Jawa Tengah memiliki kacamata batang padi yang tidak terlalu berbeda.

  1. STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Yak, STAN. Dalam kacamata batang padi masyarakat desa STAN merupakan kampus ideal. Biaya gratis, masa kuliah yang singkat, dan jaminan pekerjaan telah menambatkuatkan batang padi masyarakat desa pada PTN Kedinasan satu ini. Mempunyai anak, cucu, saudara bahkan tetangga anak STAN adalah batu loncatan yang mendongkrak gengsi sampai setinggi Niagara.
  2. AKMIL (Akademi Militer). Merupakan sebuah kebanggan dapat memajang potret anak atau cucu berseragam lorek hijau tua-coklat di ruang tamu. Rasanya foto itu akan menyedot banyak perhatian orang sekaligus penanda utama keberhasilan orang tua dalam mendidik anak. Beberapa stiker berbau militer pun bertengger di pintu masuk. Simbol sebuah kebanggan.
  3. PGSD UNS (Universitas Negeri Sebela Maret). Bisa dibilang setelah jajaran MUSPIDES (Musyawarah Pimpinan Desa:D *bener ndak nulisnya?), gengsi sebagai orang besar di desa adalah para guru SD yang ada di desa tersebut. Guru SD juga merupakan orang yang bahkan dianggap seperti koordinator riset dan pembangunan sebuah desa melalui kajian akademisnya. Siapa yang tidak bangga coba?.
  4. PGSD UNY (Universitas Negeri Yogyakarta). Bagi masyarakat Purworejo, hidup berdampingan dengan kemegahan Jogja (rada ndak enak kalau nyebutnya Yogya) dan kemudahan akses ke Jogja dengan menggunakan prameks, sedikit banyak mempengaruhi objektivitas masyarakat desa cederung kepada sesuatu yang bersifat ke-Jogja-an. Bergabung dengan alas an di PGSD maka cukup cocok kalau PGSD UNY menempati rating ke 4 dalam pe-rating-an ini.
  5. Kedokteran UGM. Bisa dipastikan ini merupakan pendapat kebanyakan orang di Indonesia, bukan hanya masyarakat pantai selatan jawa kupikir. Setiap orang, baik yang suka cangkair atau pun tidak, yang punya leptop atau tidak, berkacamata atau tidak setiap mendengar kata kedokteran UGM terbayang sebuah ke-MEGAH-an bukan pertanian :D.
BTW, perguruan tinggi ku (IPB) dan Program Studiku ku (Ilmu Gizi) belum masuk Top Five dari jajaran program studi perguruan tinggi terkemuka di maysrakat pantai selatan Jawa. Bagaimana Perguruan Tinggi mu? Bagaimana di daerah mu?

Selasa, 13 September 2011 1 Comment

Pick Up 1 (Italic)

Memandang desa seperti memandang mobil pick up dari dalam kaburator-nya, sangat dekat hingga kaki ini tak kuasa menahan getaran yang disebabkannya. Mata ini kabur hingga berair menyaksikan mobil pick up ini terpelanting ke jurang jauh dari peradaban yang dikecap orang-orang di KRLCommuter Line Bogor-Jakarta. Malu sebenarnya, menampakkan diri sebagai seorang mahasiswa yang punya banyak akun dunia maya ditengah kehijautuaan mobil pick up ini.


Desa ini masih seperti mobil pick up dulu, yang digunakan untuk bersilaturahmi bersama 24 orang dewasa ples belasan anak-anak dipunggungnya. Tanpa handphone, apa lagi i-pad di genggaman tangan orang-orangnya. Hanya ada beberapa bungkus kacang rebus dan teh manis yang ber-ampas sebagai bekal nanti. Karena lepas silaturahmi akan mampir duduk diatas tikar di samping pantai Ketawang yang panas. Selepas sore, akan pulang membawa senyuman harapan, senyuman harapan untuk mengulangi kembali di awal Syawal tahun depan.


Desa ini masih seperti mobil pick up dulu, yang tulisannya MITSUBISHI-nya sudah tergore-gores oleh pacul dan suku-suku traktor. Memang masih terbaca oleh anak-anak SD yang tak bersepatu, yang lebih senang main bola di sawah kering retak, dari pada duduk tenang mengeja huruf di bangku sekolah. Mohon maaf, mobil pick up ini tak seperti bus Nusantara kelas Premier Class yang ber-WiFi, jangan kan WiFi, warung internet pun jauhnya 2,5 jam dari desa. Itupun jika jalanan tidak berair akibat sungai yang meluap tak kuasa menahan limpahan air hujan dari gunung yang sudah gundul tadi malam. Entahlah, apakah 6000 IDR untuk 54 menit adalah harga yang terlalu sedikit untuk membalas jasa “pembuka jendela dunia” di pelosok jauh desa? Kurasa terlalu sedikit.


Desa ini masih seperti mobil pick up dulu, yang mesinnya meraung bersih nyaring walau moncongnya tak memiliki plat no polisi. Entahlah, mungkin tak ada yang lebih merdu dari suara mobil tanpa plat meraung di siang terik dan jangkrik sebangsanya pada malam dingin berangin. Sesekali ada suara lagu yang lagi top “ABG Tua” dan beberapa lagu WALI ketika ada sanak-saudaranya menikah atau menikah (lagi).

Memandang desa seperti meng-mikroskop sebuah realitas secara objektif tanpa dipengaruhi data-data statistik yang (terkadang) menipu. :D

Rabu, 07 September 2011 Leave a comment

Porjo, Saba

Tergelitik untuk menulis keduanya, karena di keduanya aku sempat dibesarkan, disebarkan benih-benih patriotisme di dalam dada ini dan sempat pula konsumsi APBD keduanya. Sempat pula (terkadang) rindu kepada keduanya, contohnya saat ini, H-1 menjelang meninggalkan keduanya dan kembali ke biduk perantauan yang panas walau di gunung (gununga apaan?),Bogor. Tempat asal muasal grup musik Bondan & Fade 2 Black.


Keduanya memang indah. Keduanya sangat dekat, rekat dan pekat, daging buah dan biji bisa dikatakan demikian. Hanya tinggal melangkah da melongok untuk saling melongok antar jendelakeduanya. Namun mereka berbeda layaknya Jati dan Kunyit. Sangat berbeda sangat, baik dalam kandungan pigmen kulit buah-nya, kemampuan menghasilkan minyak atsiri, sisi fungsionalitas,habitat hidup banyak lah, banyak.

Wonosobo ASRI dan Purworejo Berirama. Aman, Sehat, Rapi, Indah milik Wonosobo dan Bersih, Indah, Rapi, Aman dan Makmur untuk Wonosobo. Secara substantif sama saja. Cuma lebih "menggairahkan" milik Purworejo, pertama kali waktu denger kalau Purworejo pake slogan "berirama" aku sempet mikir ini kota orgen tunggal yak?. *ngawur :D


Sebagian besar daerah Wonosobo berada pada daerah sejuk, sisanya daerah dingin di seputaran lembah dan puncak gunung Sindoro Sumbing. Sedangkan Purworejo adem ayem pada dataran rendah pinggir Samudra Hindia, kecuali sebagian wilayah utara yang didominasi pegunungan dan sangat sulit untuk mencari bis-bis bagus lewat sini.


Wonosobo sebenarnya adalah Wanasaba, jarang sekali orang asli Wonosobo yang mengatakan Wonosobo itu Wonosobo, namun Wanasaba, kecuali orang-orang yang udah kontam sama virus "kota". Huehehe. Sedangkan Purworejo, semua kata-katanya diakhiri dengan "o" dan "ng". Seperti kalo mau ngomong salaman jadi "salamango"-jangan lafalkan kata tersebut menurut logat anda masing-masing, agak susah, tingkat tinggi susahny. Cuma orang Purworejo (aku :D) yang bisa melafalkan dengan benar.


Saat-saat terindahyang amat indah adalah saat dimana naik kol (sebutan untuk bis kecil dari Wonosobo-Purworejo dengan tarif 15rb saat lebaran dan 12000 saat hari normal) dengan ada orang dari Wanasaba dan Purworejo. Kalo mereka saling dialog, jadinya saling campur logat, antara ngapak dan dialek "o". Kayak kalimat Sapak Siro? (analisis: huruf k pada "sapak" dibaca seperti pada kata kampak bukan seperti pada kata bapak-inilah yang disebut dengan ngapak :D, dan siro-menggunakan "o" yang khas sekali Purworejo nya) lucu jadinya :D.


Bersambung ke Porjo, Saba bagian 2 : *warnet-nya mahal banget T.T

Leave a comment

« Postingan Lama Postingan Lebih Baru »

Arsip Blog