I'tiraf


''Ilahi lastu lil firdausi ahlan
Walaa aqwaa ‘alannaril jahiimii
fahabli taubatan waghfir dzunuubi
fainnaka ghafirudzdzambil ‘adzhiimii

Ya Tuhanku, aku tidaklah pantas menjadi ahli syurga firdausMu
Namun aku juga tak kan sanggup masuk ke neraka jahimMU.
Oleh karena itu, terimalah taubatku dan tutupilah dosa – dosaku.
Sesungguhnya Engkau maha mengampuni dosa – dosa besar

Rendah hati, idiom yang tepat menggambarkan dalamnya penghayatan terhadap syair tersebut. Syair yang ditulis oleh orang yang sering menjadi bahan tertawaanku karena kekonyolannya, bahkan kadang saking kerasnya aku tertawa sampai menolehkan muka orang-orang di sampingku. Namun, sungguh kejujuran yang mengharu biru pada dirinya mengantarkan dirinya kepada sebuah kerendah-hatian pada keMahaan-Nya. Kerendah-hatian diri yang terpancang tegas pada syair yang simpel dan (sangat) polos namun penuh makna. 

Abu Nawas, kau membuatku benar-benar terlempar pada kubangan dosa lewat syairmu. Aku yang pasti lebih banyak dosa daripada dirimu, yang pasti lebih pantas masuk ke neraka dari pada dirimu, yang  pasti lebih jauh dari surga dari pada dirimu, yang pasti lebih buruk dari mu, malu membeberkan semua list dosa pada Allah kita. 

Yang mana, aib itu tak ada satu pun yang tau selain diri kita sendiri dan Allah. 

Allah, hilangkan malu ini, malu yang menutupi pengakuan ku pada Mu. Amin

Senin, 28 November 2011 Leave a comment

Tentang Hari Ini

Nak, bersama segelas kopi pahit, ayah ingin berucap padamu tentang hari ini. Tentang hari yang jam, menit dan detiknya telah ayah lalui. Tentang semua mimpi yang menyeruak karena serasah hari ini.

Hari ini, sudah 5 hari berturut-turut ayah sholat subuh tepat waktu, berjamaah di masjid!, ini rekor terbesar ayah nak. Rekor sebelumnya hanya 4 hari berturut-turut. Semoga rekor ini dapat naik ditambah hari esok menjadi 6 hari bahkan 7 hari!, sebuah rekor baru, yang mungkin bagi sebagian orang terlihat biasa namun luar biasa bagi ayah. Yang mungkin bagi sebagian orang mudah melakukannya tapi bagi ayah masuk dalam kotak yang cukup sulit (bukan sulit lho nak :D) bagi ayah. Biasanya sebelum terjadi rekor ini, turutan ini selalu putus oleh kemalasan.

Pencapaian luar biasa ini ayah ganjar dengan ubi manis, yak 1 kg ubi manis yang ayah beli selepas mengunjungi sekretariat organisasi ayah. Esok pagi akan ayah rebus untuk saur (ayo diversifikasi nak!).

Kau benar nak, ayah ndak soleh.

Hari ini, ayah belajar tentang Amerika (baca: Amerika Serikat) dari seorang dosen ayah. Ayah belajar bagaimana berkelit dari lilitan tuntutan riset yang didanai Amerika. Dosen ayah bercerita bagaimana negeri kita dalam posisi terjepit dan ndak punya pilihan. Negeri kita, yang dihadapkan pada pilihan-pilihan tanpa profitivitas yang paripurna.

Dari beliau juga ayah belajar bagaimana agar kita ndak selalu menyalahkan kebijakan pemerintah, karena pemerintah (yang sebenarnya) dalam posisi sulit. Posisi yang diwariskan oleh pemerintah sebelumnya yang terikat dengan banyak rerajut tuntutan dari sono dan sini. Tertarik? mari sama-sama belajar nak, sekaligus merumuskan solusi tentunya.

Hari ini, ayah telah benar-benar menikmati masalah yang (selama ini) mengepung ayah dari berbagai penjuru mata angin. Semoga ndak ada lagi kata keluh yang keluar dari kerongkongan ayah, kalau pun ada semoga ndak terlalu banyak. Amin.

Hari ini, tepatnya dini hari ini, ayah kembali memikirkan mu, dan (sedikit :D) memikirkan ibumu yang entah sedang apa dia sekarang, dimana dia dan siapa dia, ayah blank tentangnya nak, tepatnya sih berusah mem-blank-kan diri. Kelak jika kau sudah bisa mencuci sendiri kau akan mengetahui betapa menariknya bagian ini :D.

Hari ini meninggalkan berjuta-juta kesan nak. Namun ayah malu menceritakan padamu, malu, malu kalau kau tau kehidupan ayah saat muda, saat dimana hanya ada ambisi dan emosi untuk posisi.

Maaf nak, ayah ndak ideal, begitu banyak nafsi bermain pada pikiran ayah. Mari beristighfar nak. T.T

Kamis, 24 November 2011 Leave a comment

Bangga Gagal!

Gagal menurut ku seperti logo PT KAI yang baru, fantastis! Mengoleksi kegagalan seperti mengoleksi pompa air. Pompa air yang sewaktu-waktu digunakan mengeringkan banjir kesedihan.

Nak, kau harus tau bahwa ayah memiliki “sesuatu” yang sangat ayah sukai. Semacam hobi lah. Jika ayah tak melakukannya sekali saja, seperti ada yang kurang dalam akumulasi detik-detik hari ayah. Awalnya ayah menyukainya karena tak memiliki pintu pilihan lain. Berkali-kali merasakannya membuat ayah “terpaksa” menyukainya. Namun, lama kelamaan ayah memang menyukainya. Sangat menyukainya

Kegagalan nak nama “sesuatu” itu.

Merasakan gagal (apalagi yang bertubi-tubi) seperti menerima gemerosok semangat baru nak. Semangat untuk terus belajar hal-hal yang baru, hal-hal yang selama ini masih tertutupi pintu-pintu kepuasan. Semangat baru ini bertransformasi menjadi hal-hal konkret seperti kafein sintetis, kafein ini yang memacu jantung perbaikan ayah untuk terus berdetak dan menggelegak otak untuk berpikir terus tentang bagaimana mengkontinyukan perbaikan.

Menurut subjektivitas ayah, mengoleksi kegagalan itu menyadarkan ayah banyak hal. Ayah tersadar bahwa hidup ini seperti proses pembelajaran yang tak pernah usai. Never ending learning (kalau grammar ayah salah dibenerin ya nak :D). Pembelajaran ini seperti menaiki tangga vertikal masjid kampus ayah. Tangga itu ada ditengah-tengah ruangan gelap dan sempit, saking gelapnya ayah tak tau puncaknya. Seperti kita yang tak pernah tau kapan puncak umur kita. Puncak saat semua metabolisme tubuh kita terhenti.

Yang ayah tau, puncak itu ada dan ayah pasti sampai di sana jika ayah terus naik dan naik.

Saat ayah sampai puncaknya, ayah berhenti. Gantian nak, saatnya engkau yang merasakan “naik tangga” itu, lewat kafein hasil koleksi kegagalan yang ayah ceritakan pada mu.

Nb: Nak, saat aku ceritakan ceritakan padamu tentang rentetan kegagalan ku, aku yakin, kau akan "belajar" lebih, namun jika aku ceritakan padamu tentang keberhasilanku, aku juga yakin, kau akan "merasa" lebih.

Rabu, 16 November 2011 1 Comment

Cinta :D

Setiap mahluk bergantung pada-Mu
Dan bersujud semesta untuk-Mu
Setiap wajah mendamba cinta-Mu cahaya-Mu
(Opick 2010)

Bener-bener dah, *jleb nih lagu, mengena banget. Beberapa pekan belakangan ini seperti hilang kontrol sama diri sendiri. Tetep ngerjain tugas sih, tapi ndak pake hati. Tetep nulis sih tapi tanpa feel yang mumpuni. Semuanya kosong. Kosong bagai pelataran ruang kelas LH.

Sampai akhirnya, lantai coklat itu begitu menarikku, datang dan menciumnya, langsung dengan dinginnya. Dindingnya berlubang seperti melebarkan pintu untuk memasukinya. Semilir angin menegakkan bulu kuduk dan semangat ku untuk berdiri-bersedekap di atas lantainya. Hingga akhirnya lantainya basah karena “sesuatu”. Sadar, setengah sadar, Menyadari bahwa cinta ku meregang padanya.

Banyak yang kosong belakangan ini. Bahkan beberapa kali meracuni rasa ikhlas dalam perbuatan. Banyak niatan-niatan melenceng jauh dari tuntutan awal. Nafsi-nafsi menyerbu untuk menjadi numero uno tanpa pandang bulu. Nafsi pada titel dan aktualisasi diri keduniawian.

Menyerbu bulu-bulu keinginan hingga ia menjadi tidak terbatas, lepas kontrol, namun terbatas pada duniawi, tak sampai pada akhirat. Menerabas kesabaran dan qannah hingga meledak menjadi emosi yang tak tersampaikan. Memendam dan bengkak menjadi sudut pandang citra buruk.

Sering menjadi fatamorgana untuk topeng dan perbaikan di depan orang banyak. Tanpa mau mengevaluasi diri, tanpa sadar diri sendiri jauh lebih buruk. Memperlihatkan (hanya) yang mulus tanpa sadar kasar ini lebih banyak.

Ibadah hanya menjadi rutinitas, semacam penghilang beban dan kewajiban. Terkadang begitu sulit untuk menemukan kenikmatan beribadah, sulit untuk menemukan kenikmatan cinta-Nya. Ini kah yang disebut mendamba cinta-Nya?.

Hati ini mengkatup diri dari cahaya-Nya, hingga diri ini menjadi gelap dan kalap.

Kembali berfikir tentang-Nya, menerasak kasih sayang-Nya, mensyukuri nikmat-Nya. Kembali jatuh ke status hamba yang lemah dan penuh harap untuk cinta-Nya.

Allah bukalah hatiku,
bimbing di jalan terang-Mu.
Selamatkanlah jiwa yang gelap dalam cahaya rahmat-Mu

Rabu, 09 November 2011 Leave a comment

« Postingan Lama Postingan Lebih Baru »

Arsip Blog