Alin


Reeeet, ret... ret... [Sms masuk]

Dari: K Mamah Baru

Mas, semester depan Alin mau Ranking 1-ah. Mas mau kasih Alin apa?

09.18

Sms itu dateng bersamaan dengan beberapa sms lain. Temen-temen FORCES. Kubalas satu persatu. Cepat. Sms Alin? Kelupaan. Bahkan sore ini sudah terhapus karena kotak masuk sms ku penuh. Datang lagi sms lain, kali ini dari teman-teman kelas tentang materi ujian. Dibalas cepat. Sms Alin? Kelupaan (lagi).
Sampai sore ini, entah angin apa yang membuatku ingat sama Alin. Sama Alin yang lebih suka maen bola ketimbang bekel. Sama Alin yang hapal diluar kepala ibukota negara-negara Eropa.

Dari 24 jam per hari yang aku punya, aku ndak sempet meluangkan waktu barang 1 menit pun untuk Alin. Hanya untuk membalas sms. Ini bukan yang kali pertama, ah udah biasalah. Sepertinya Alin paham bahwa masnya punya urusan yang lebih penting dari sekedar membuatnya tersenyum girang membaca balesan smsnya. Lapor Alin saat aku pulang, “Mas, kadang Alin udah lupa sms apa, eh smsnya dibales sama mas”.

Ah, Alin bahkan mas mu ini sering lupa, Alin kelas 4 apa 5 ya?. Bahkan mas (sempurna) lupa warna kerudung yang dulu mas berikan ke Alin. Yang katanya jadi favorit Alin untuk ngaji di bu Upik. Haduh, maafin mas ya Lin.

Mas kemaren abis naik gunung sama temen-temen asrama mas. Mas nanti malem mau ngobrol-ngobrol sama temen-temen organisasi mas. Besok pagi giliran temen-temen kelas yang ngajakin olahraga.

Mas ndak ada waktu buat Alin. Duh kalimat ini, naif banget. Bahkan masuk kategori jahat saat bener-bener sadar Alin itu adek ku. Adekku yang ndak pernah protes waktu smsnya lama dibales, bahkan (beberapa kali) ndak dibales.

Konkret, ambil hape

Untuk: K Mamah Baru

Kalau ranking 1, mas mau kasih ensiklopedi negara-negara Eropa yang berwarna dan banyak fotonya :D. Ayo belajar yang rajin Alin cantik.

17.35

Ah, sepertinya masih kurang. 

Senin, 26 Desember 2011 Leave a comment

Sukamaju!


Kecil dulu aku sehari-hari, selepas sekolah yang mining banget, hanya bergulat dengan tanah lempung. Tanah lempung ini digunakan untuk membuat genteng dan batu bata. Hampir semua orang-orang di desaku, desa Sukamaju, Lampung Selatan, merupakan pengarajin genting dan batu bata. Sebenarnya, orang tuaku ndak termasuk ke dalamnya, orang tuaku penjahit kecil. Alasan fisik merupakan alasan logis kenapa orang tuaku ndak termasuk pengrajin genting dan batu bata. Eh iya, aku sering cacingan dulu, karena orang yang terbiasa bekerja dengan tanah lempung mempunyai sanitasi yang buruk saat makan.

Saat kecil, aku ndak terkondisikan dalam kehidupan penuh mimpi(-mimpi) tinggi. Paling-paling hanya sebatas hanya menjadi penari latar. Yak, saat kecil dulu, saat awal-awal sekolah, aku dengan saran ibuku yang menggebu bercita menjadi penari latar. Ini efek melihat acara PESTA setiap sabtu sore di Indosiar. Desaku saat itu hanya menangkap 2 saluran TV, ANTV yang masih campur dengan MTV dan Indonesia dengan program unggulannya: Kera Sakti.

Ah, terlalu melankolis menuangkan semua masa kecil di tulisan ini. Suasana yang ndak terlalu berbeda dengan kondisi sekarang. Yang berbeda hanya aku sudah ndak cacingan dan program unggulan saluran TV Indosiar yang bukan Kera Sakti lagi.

Malam ini, kenyataan yang ndak ditopang mimpi masa kecil yang jelas. Aku berada di posisi terberat dari seluruh posisi yang pernah aku tempati. Aku mohon bantuannya.

Aku mohon bantuannya, demi Indonesia, demi desaku dan desa teman-teman yang termasuk Indonesia, bukan demi aku dan mimpi-mimpiku, tapi (bolehlah) demi mimpi teman-teman.
:D

Lampung, 20 Desember 2011 

Rabu, 21 Desember 2011 1 Comment

Mencuci

Nak, ayah baru selesai mencuci, baru saja, seember (lebih tepatnya sekeranjang, karena ayah menggunakan keranjang sampah ijo untuk wadah baju kotor dan hasil cucian ayah) cucian telah berubah menjadi serenteng jemuran di lantai 1 asrama ayah. Sengaja ayah taruh di lantai 1, agar ndak terlindungi dari hujan, ndak masalah harus kering agak lama, asalkan tetep 'adem ati" saat hujan turun sewaktu ayah asik menengguk ilmu di jam-jam kuliah dan praktikum. Setiap ujungnya bagian atas ayah jepit dengan penjepit plastik yang mengerat kainnya dengan bilah-bilah jemuran yang funky. Ujungnya meneteskan air harum Rinso warna Pink.

Mencuci seperti pompa bagi ayah, pompa yang mengembangkempis-kan semangat. Ujung fluktuasi itu adalah titik puncak, ya nak, mencuci seperti mengembalikan semangat ke puncak ubun. Tinggi semangatnya mencapai 176 meter lebih tinggi 9 meter dari tinggi Menara Eiffel. Ah tidak nak, ini naik lagi ternyata, sepertinya lebih tinggi lagi, lagi dan lagi hingga jaraj gelombang cahaya selama 1 jam pun tak dapan menjangkau ujungnya. 

Ujungnya bercabang nak, 

Bercabang pada dirimu, bercabang pada rangkaian organisasi yang semrawut dan saling mengait namun menyemburatkan senyum, berujung pada slide-slide kuliah yang belum terjamah (bukan pada buku nak, karena terlalu rumit jika mengacu pada buku-buku pegangan yang sangat subjektif) padahal mau ayah UAS nak *bangga :D

Lanjut, ada cabang lain yang tampak lebih kokoh dan berurat, keluarga demikian ujung cabang itu tertanda, lewat sms-sms teror yang hampir membuat ayah jenuh. Hampir saja cabang ini patah, menyisakan keputusasaan, namun, cabang lain ternyata membantu menopangnya agar asa ayah tak pernah berhenti membentang. Mengiring asa-asa menuju keranjang yang tak bertepi, keranjang kesabaran. 

Ada cabang yang terlihat malu-malu nak, bahkan terkesan hanya timbul pada saat malam sunyi, cabang yang mengaitkan ayah dan bayangan ibumu. Allah telah mempersiapkan yang terbaik untuk ayah :D

Cabang-cabang yang membuat masalah!, tapi masalah bukannya mendewasakan ya nak? eh, tak tepat rasanya menggunakan kata 'masalah', 'urusan' mungkin kata yang lebih tepat.  Yak, cabang-cabang yang membuat banyak urusan!.

Karena, masalah kita adalah nanti, di hari akhir-Nya. 

   

Kamis, 15 Desember 2011 2 Comments

Kekaguman


Nak, mata ayah basah, 

Dihadapan ayah ada barisan orang berbaju kuning hijau berhias manik-manik yang meling-meling, menggerakkan tubuhnya kesana kemari, seragam seperti sirip segerombolan ikan yang bergerak streamline. Sangat jelas, garis-garis energi produk transformasi cinta di setiap kontraksi ototnya.

Lengkingan suara mereka hampir tidak bisa dibedakan dengan pecicitan suara burung camar pantai, menggema tidak terbataskan pada dinding pohon kelapa yang memburukkan nyanyiannya. Senyum mereka, oh senyumnya, senyum yang melegakan, seperti senyum Rahmad Darmawan saat Ferdinand Sinaga gagal mengeksekusi penalti sehingga Indonesia kalah, sehingga banyak orang basah matanya, seperti mata ayah. 

Nak, mata ayah berair, 

Kurang lebih 2 meter di depannya, seseorang berbaju ungu ketat, berkali-kali memelongokkan lehernya, sembari tak berkedip. Memegang Samsung Galaxy Tab, kameranya 5 MP-nya berkedip-kedip, tangannya ndak goyah (seperti se se semangat kita :D *kepalkan tangan nak!) merekam apa yang ada kurang lebih 2 meter di depannya. Disampingnya seorang perempuan dengan kaus casual dan bercincin banyak berulang kali mengatupkan telapak tangannya keras-keras hingga mengeluarkan prok... prok... prok...

Sebuah lukisan melankolis tentang kekaguman, terfokus pada orang-orang yang berbaris setengah jongkok, kurang lebih 2 meter di depannya.  

Ayah yakin di hati mereka ada bumbungan kekaguman terhadap nama sebuah negara besar yang tertulis di slide belakang orang-orang yang berbaris setengah jongkok kurang lebih 2 meter di depannya. INDONESIA. Di atasnya ada kumpulan huruf lagi SAMAN DANCE :D. 

Ada cinta ayah di segala hal tentang Indonesia :D

Selasa, 06 Desember 2011 Leave a comment

Karya


7.19 jam yang ada di pojok kanan bawah laptopku menampakkan angka itu. Aku sudah duduk di bangku hijau pudar keputihan pendek nan empuk -tempat dimana biasanya dosen duduk- khas ruang kelas Faperta. Sembari beberap kali menguap, mataku berair (bukan karena nangis, tapi efek menguap). Semalam aku ndak tidur. Ngejer target :D.

Seorang berambut agak jabrik berjalan tergesa, di tangan kanannya ada kabel “paralel” (colokan panjang yang lebih dari 1, ada yang ada lampunya ada yang ndak ada, aku belum tau nama alat ini tepatnya, ada yang bilans steker, ada yang bilang yoghurt, tapi kami biasa menyebutnya demikian). Tangan kanannya menenteng tas kotak berlabel tulisan miring putih tanpa huruf kapital “acer”.

Sigap cepat, menuju colokan di dinding, memasukkan kepala kabel paralel dan mengutasnya cepat menjadi panjang dan ndak kusut. Menekan tombol warna merah di badan kotak paralel, cetreek, lampu merah di tombol tersebut hidup.

Baru menyala, tapi  semangatku sudah menyala dari tadi malam. Bahkan dari tadi sore :D.

Enerjik, dibuka bungkus hitam “acer”, diletakkan isinya di atas meja abu-abu (khas Faperta atau malah IPB? Eh beberapa meja dosen IPB coklat lurik-lurik motif kambium kayu:D), Di bagian belakang ditusuk dengan kabel ukuran besar berujung 2 warna biru. Satu sisi di kotak hitam berilat-kilat, isi dari tas tadi dan sisi lain di badan colokan, situk. Pas.

Terakhir pengecekan bahwa laptop benar-benar ter-output secara sempurna pada proyektor. Yak dalam hanya 3 kali tekan! Trek tek tek. Tiiit.

Aku melihatnya kali ini, karena kuliah mulai jam 08.00

Aku melihatnya karena aku tidak terlambat hari ini, aku ingin melihatnya lagi, aku ingin semangat nya menular pada ku, semangat memberikan yang terbaik sedini dan seterakhir mungkin pada bumi. 

Kamis, 01 Desember 2011 Leave a comment

« Postingan Lama Postingan Lebih Baru »

Arsip Blog