Gizi IPB
Senin, 18 April 2011 Leave a comment
Transportasi Massal!
Semenjak masuk kuliah, aku mulai menyukai lagi dunia transportasi (dulu waktu SD sempet seneng dengan namanya jalan raya, penyebrangan selat dan rel kereta api), menurutku transportasi itu keren. Ia bagai mouse komputer yang menggerakkan pointer di layar kaca (perumpamaan yang aneh).
Orang dapat memindahkan beban masalah, gumpalan keceriaan, massa tubuh dan berbagai macam materi lain dengan transportasi. Di Indonesia? jangan ditanya lagi tentang urgensi transportasi, dengan 17 rb lebih jumlah pulau, dan 220 juta penduduk Indonesia semakin menekankan bahwa kesatuan (secara lahir dan batin) Indonesia membutuhkan topangan transportasi yang solid.
Aku suka moda transportasi massal, Aku suka kereta api karena seperti ular lincah meliuk di tengah gurun padi, aku suka kapal ro-ro yang kalo ngapung kayak kepiting nyemplung di liuk karang, aku suka bis seperti belalang tempur, aku suka, terkait juga tentang kebersamaan penumpannya, ke-ramahanlingkungan-nya sebab emisi yang terhitung rendah jika dihitung perkapita, terkait beban jalan yang ringan, terkait cakupan bisnisnya yang dari menopang kehidupan pedagang dodol di Cikampek sampai mbok-mbok penjual pecel di st. Purwokerto, tentang efisiensi penggunaan bahan bakar perkapita, terkait keteraturan aktivitas massal, tentang pemandangan alam di perjalanannya,
tentang semua, aku suka transportasi massal.
Aku ndak suka orang pake Honda Odyssey, tapi cuma dia sendiri yang ada di dalemnya, ndak suka,
Minggu, 17 April 2011 Leave a comment
Rooney (bukan) Striker MU
Tak apa disebut bukan sebagai striker bahkan tidak mencetak gol sekalipun, asalkan piala itu diangkat teman-temanku. Rooney (bukan) Striker MU 2011.
Rabu, 13 April 2011 Leave a comment
Ilmiah Populer: Anemia (1)
Mulai menyadari bahwa (nanti) akan menjadi ahli gizi, harus sering nulis tentang gizi dan keluarga-keluarganya, hehehe.
Secara umum Anemia diartikan sebagai penurunan kapasitas bawa oksigen oleh hemoglobin karena penurunan konsentrasi Hb dalam darah. Orang awam sering terkukar antara darah rendah dengan anemia. Darah rendah yang dalam medis disebut sebagai hypotensi merupakan penurunan tekanan darah bukan pada kehilangan sel darah.
Penyebab anemia secara umum dapat di bedakan menjadi 3 yaitu:
- Peningkatan pengeluaran sel darah merah, yang termasuk dalam kategori ini adalah anemia karena menstruasi pada perempuan, pendarahan baik pendarahan dalam saluran organ tubuh seperti saluran pencernaan maupun luar seperti kecelakaan.
- Gangguan terhadap proses produksi sel darah merah, meliputi rusaknya sitoplasma karena defisiensi Fe, rusaknya bentuk sel darah merah karena defisiensi B12 atau megaloblastik, gangguan ginjal kronis, dan gangguan pada sum-sum tulang belakang. Selain itu gangguan terhadap proses produksi sel darah merah juga dapat diakibatkan oleh faktor bawaan dari orang tua.
- Peningkatan destruksi (pengrusakan) sel darah merah, terkait dengan aktifitas sel darah putih yang berlebih dalam memfagositosis sel darah merah, kejadian ini sering dikenal dengan leukimia (kanker darah). Selain itu dikenal juga talasemia yang terkait dengan aktifitas sel limfotik yang bertugas untuk pembentukan sistem imun tubuh.
Oke, sudah pagi, nanti dilanjutkan lagi yak!
Senin, 11 April 2011 2 Comments
Serius, masalah negara!
Wah, kita melingkar, sebenarnya agak gepeng sih, diiringi sama sepoi-sepoi angin dari jendela terletak di belakangku, pake baju seadanya, rada ngantuk, (ada) pake sarung, mengganggu yang lagi tes PPSDMS.
Kita ngomongin masalah negara, masalah yang (biasanya) gak banyak orang ngobrolin, rada ekstrem sebenarnya, kadang menyindir (beberapa) partai yang rada-rada besar. Ada anak Sipil, Gizi, Statistik, ESL, HPT, GFM dll (bagi yang ndak tau apa kepanjangan dari singkatan-singkatan itu silahkan lirik ke www.ipb.ac.id.
Sedikit ada bersitegang, agak mau perang, mengais darah, internetnya cepet, tapi banyak ketawanya, eh di kamar sebelah ada lagu Stinky. Tapi kami tetap kami, kami tetap merah putih, kami tetap bertanah alluvial walau banyak gunung berapi yang nyebabin banyak potensial bencana. (kalau ada bencana bisa pake pangan daruratku, udah disetujui loh sama BNPB (allhamdulillah...) seneng banget, kayak pas pertama kali pergi ke Dieng)
Satu yang harus kita pahami, "jangan memakan bangsa sendiri, karena kita pernah menangis kehidupan di sini"
Minggu, 10 April 2011 Leave a comment
Akhirnya rasa kangen itu muncul (lagi)!
Keinget, pertama kali ngelakuin namanya merantau, kelas 3 SD, masih culun banget.. Sore itu dengan tekat sok kuat ples tas ransel punggung, aku sudah berada di atas jok bis Puspa Jaya Lampung tujuan Jogja Solo, non AC tentu! (waktu itu belum sering sakit asma). Kulihat ibu sedang bebincang dengan supir bis untuk menurunkan aku di perempatan Andong, Kutoarjo, Purworejo. Ada rasa sedih di matanya, namun keminiman rasa peka diri kecilku membuat tubuh kecil ku tak menghiraukan itu, aku pergi, merantau untuk pertama ke rumah mbah di Purworejo. Sementara itu, supir bis kaget melihat keberanianku berpergian sekecil ini, sendiri.
Aku sampai di rumah simbah, hari-hari awalnya sangat berat, foto ibu selalu basah oleh air mata dan kucel oleh remasan tangan kecil ini. Puncaknya sampai aku memaksa ingin pulang kembali ke Lampung. Sayang asa ku tak terkabul, aku hanya menulis secarik surat untuk ibu, ibu membalasnya, saat aku menangis (lagi) membaca suratnya.
Purnama kembali berganti, entah mengapa, rasa yang pada awal rantau menyiksaku sekarang mulai tedegradasi, lambat laun aku seperti biasa saat menerima surat ibu, tapi aku tetap mencintainya, mencintai adikku, Reka, Alin. Dalam hati ku tak akan pulang sebelum sukses!.
Sampai pada tahun ke 6, saat aku SMA di Wonosobo, berarti aku sudah tak berlebaran 6 kali bersama ibu, aku kehilangan kontak dengan ibu, sementara dalam hatiku aku menanyakan ada di mana rasa kangen itu, aku berharap ia sehat, di masa ini aku hanya memikirkan bagaimana aku berkelit agar tetap sekolah dan berkelit dari kemarahan bude, berkelit dari rasa capek, letih dan sakit yang mendera.
Beganti digit terakhir pada tahun, tepat 9 kali aku tak berlebaran dengan ibu, Alhamdulillah aku menemukan kontak ibu diantara desakan dan masalah kehidupanku, namun aku tetap biasa, rasa kangen itu juga belum muncul, aku tak menyertakan rasa kangen itu bersama nominal rupiah penghubung kami, tak menyertakan dalam huruf-huruf sms kami, aku merasa aneh saat ada orang yang baru semalem meninggal kan seseorang lalu mengatakan saat kangen,
Namun, mengingatmu hari-hari terakhir ini adalah hobi otakku, mencerna sms tentang mu akhir-akhir ini adalah makanan kesukaan ku, menanyakan kabarmu setiap waktu adalah kesukaan jemari tanganku, mendekap tangan mu adalah gejolak hati yang terpimpong perasaan, ambisi, harapan dan keinginan yang campur aduk jadi satu,
namun aku tak ingin kau memandang kaca air di mataku saat kau bangun, aku ingin bohong padamu bahwa: aku tegar bu!
Rasa nya aku kangen (lagi)!
Kamis, 07 April 2011 1 Comment
Sepak Bola itu Indah!
Sepak bola mengajarkan kita untuk berbagi dengan sejawat lewat minimalisir menggocek bola sendiri, mengerti pergerakan serangan wing bersama tanpa harus komunikasi verbal antar anggotanya, memberikan 100% kepercayaan pada seorang Markus untuk menghadapi striker Laos, memutar otak melalui celah bisnis pada sponsos apparel sepak bola, menilai kecintaan sebuah warga negara untuk membela negaranya lewat teriakan panas melengking suporter, mengerti dan memaksa pemikiran pada sebagian orang bahwa mereka(timnas) juga pahlawan bagi negaranya! (Suhandono 2010),
Lilin
“walau badan ku terpotong-potong aku akan membawa sasuke kembali dari orochimaru”
(Uzumaki Naruto)
Zaman sekarang, zaman masalah sudah tersangkut paut menjadi tumukan rambut kusut dan bulu yang kabur, mungkin sudah banyak orang yang mengorbankan dirinya demi orang lain, tak usah disebutkan, bahkan disekitar kita masing-masing, namun perlu di-ricek kembali akan-kah pada saat tertentu orang tersebut terhenti, menutup diri, melepas apa yang ia sudah biasa lakukan saat lampau,
Dalam sebuah pembicaraan dengan teman, didapatkan sebauh anggapan bahwa tak baik menjadi seperti lilin yang mengorbankan diri hanya demi orang lain. Ia membakar dirinya-karena terbuat dari parafin, lalu habis, dan tidak bisa memberi cahaya kembali. Menurut beliau, lebih baik menjadi matahari yang terus menerus memberikan cahaya kepada penduduk bumi karena ada reaksi fusi dan fisi yang menyebabkan ia terus berpendar. (walau ada data lain yang menyatakan suatu saat bahan bakar hidrogen akan habis).
Intinya, jika kita berkorban untuk orang lain, kita juga harus memperhatikan diri kita, mempertahankan hidup diri kita, mempertahankan agar kita masih bisa belanja di alfamart.
Maaf, aku punya pandangan lain, menurutku orang seperti itu sudah banyak, tak perlu disebutkan, sudah banyak orang yang berkorban namun ketika parafinnya sudah hampir habis ia berhenti, ia menutup diri, kembali ketakutan akan habisnya dirinya, akan matinya dirinya, akan matinya cahaya dirinya.
Benar, sekarang sulit mencari Uzumaki Naruto dalam kondisi nyata, yang rela tubuhnya terpotong, nyawa lepas dari raganya, berhenti memproduksi adrenalin yang menstimulan kinerja jantung, berhenti menseksresikan getah empedu, menjadi lilin yang habis terbakar, mati…
Demi sebuah tanggung jawab dan janji…
Bintang
“Whenever you’re in tears, I’m by yourside
Even on nights when we’re apart, I’m by yourside”
(with adapted from Soba ni Iru Kara, Amadori)
Sob, sobat…
Bogor dini itu masih dingin, ibarat arktik, udara yang lembab membuat kita terpaksa melapisi tubuh ringkih kita dengan 2 jaket tebal, desahan berat napas kita berdua sama-sama tersengal, maklum sama-sama punya asma, hahaha, rasanya udah sangat akrab dengan sengalan dan sedakan ini, sehingga kita punya ritme dan alur pernapasan masing-masing yang tetap membuat diri kita melaju sampai sejauh ini,
Sob, sobat…
Entah seperti apa titik air mata itu, aku tak tau beningnya, aku juga tak tau berapa kadar NaCl-nya, beneran….aku tak tau, aku juga tak tahu berapa derajat warna merah matamu saat kau mata itu merembeskan air mata, aku tak pernah menghitung berapa banyak kerutan yang timbul di wajahmu saat kau mengucek mata mu dengan tangan itu, yang aku tau, hatimu sedang bertahan…
Yah kau sedang bertahan dari gempuran berbagai macam rasa yang menjadikannmu sebagai seorang yang kukenal sekarang, yang kuat, yang senyum, yang ganteng (biar seneng aja ini mah), yang keren (ini mah untuk aku), yang kontroversial (ini pernyataan dari dirimu sendiri), yang menginspirasi aku…
Sob, sobat…
Tiap kali kau menangis, aku di sisimu, bahkan saat malam kita terpisah, aku tetap di sampingmu,
Asma dan pernyataan kontroversial akan membuat mu makin kuat,
Tetaplah jadi dirimu sendiri, Gareth Bale adalah Gareth Bale, Sandiaga dalah Sandiaga, mereka semua tampak “keren” karena berbeda. Manusia juga sama seperti bintang, tak perlu tampak sama untuk menjadi “keren”. Setiap orang harus berusaha untuk berpendar dan menampakkan keindahan sendiri-sendiri dan juga dengan cara sendiri-sendiri...
Paparan Rektor IPB terkait E.sakazakii
Berikut adalah paparan Rektor IPB Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, Msc terkait susu formula yang disampaikan pada Lokakarya Kemahasiswaan IPB di Auditorium FPIK, Ahad (20/2) siang tadi.
Pada awalnya, penelitian ini dilakukan oleh Dr. Sri Estuningsih selaku ahli Mikrobiologi Kedokteran Hewan. Beliau mendapat dana penelitian yang cukup besar, termasuk salah satunya adalah Dana Hibah Bersaing. Penelitian yang dilakukan ini adalah untuk melakukan isolasi terhadap bakteri Enterobacter sakazakii. Kalau dalam bahasa gaulnya “berburu bakteri”. Bakteri ini sebenarnya sudah ditemukan lama sejak tahun 1958, namun belum diketahui tingkat keganasannya. Susu berpotensi untuk menjadi habitat E. sakazakii karena mengandung protein yang tinggi. Dr. Estu kemudian mencoba melakukan penelitian lebih terhadap bakteri ini, sampai dilakukan di Jerman karena tidak adanya fasilitas di Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut, diketahui 5 dari 22 produk susu yang diteliti ternyata mengandung bakteri tersebut. Bakteri tersebut kemudian diujicobakan pada seekor mencit dalam dosis yang cukup tinggi, ternyata bakteri ini menyerang jaringan otak.
Setelah diketahui dampak dari bakteri ini, Dr. Estu segera mengumumkan pada pihak-pihak terkait adanya bakteri E. sakazakii dan akibatnya. Beliau sudah banyak mem-publish dalam pertemuan atau seminar ilmiah. Namun ada seorang menteri pada waktu itu (sekitar tahun 2008) yang menganggap remeh hasil temuan itu. Beliau mengatakan itu karena penelitian ini dilakukan oleh seorang dokter hewan. Depkes dan BPOM pun tidak dapat melakukan tindakan, karena hingga tahun 2008, belum ada peraturan terkait kontaminasi bakteri E. sakazakii ini.
Kemudian dilakukan seminar internasional FAO yang mengundang seluruh ahli dari berbagai belahan dunia, dan Dr. Estu mewakili Asia dalam seminar tersebut. Akhirnya ditetapkan dalam keamanan standar pangan internasional, bahwa susu harus terbebas dari kontaminasi E. sakazakii. Dengan dikeluarkannya ketetepan ini, pada tahun 2008 dilakukan teguran bagi seluruh produsen susu untuk memperbaiki kinerja produksinya sehingga seluruh produk susu wajib terbebas dari kontaminan bakteri E. sakazakii. Dan pada tahun yang sama pula, BPOM melakukan uji pada 96 merk susu dan hasil seluruh pengujian adalah NEGATIF alias tidak lagi ditemukan ada kontaminasi E. sakazakii pada produk susu.
Pada waktu dekat ini, terdapat seseorang yang bernama David L. Tobing yang memiliki 2 orang anak, menuntut agar kelima produk yang diindikasikan tercemar bakteri E. sakazakii berdasarkan penelitian Dr. Estu pada tahun 2006 agar dipublikasikan. Awalnya David menuntut atas nama masyarakat Indonesia, lalu berubah kemudian dia menuntut atas nama kedua anaknya karena anak-anaknya mengonsumsi susu. Padahal hingga saat ini kedua anaknya baik-baik saja (Alhamdulillah). Adanya penuntutan ini kemudian diliput oleh media. Media menyatakan bahwa apabila ini tidak diumumkan maka akan meresahkan warga. Distorsi media inilah yang menjadi salah satu faktor dalam mencuatnya kasus ini, sehingga banyak masyarakat yang hanya mengetahui kasus ini dari segi kepentingan publik semata, tidak melihat bagaimana seharusnya publikasi ilmiah itu diterima.
Pak Rektor menambahkan tentang dosis pengujian pada mencit. Dosis yang diberikan pada mencit adalah dosis yang dilakukan terus menerus dalam takaran tinggi, hingga akhirnya diindikasikan menyerang jaringan otak. Sementara seandainya terdapat bakteri ini dalam susu formula yang kita konsumsi, dosis nya tidak akan setinggi dosis yang diberikan pada mencit. Beliau mengatakan, “Dan saya kira, bayi-bayi Indonesia bukanlah bayi tikus, sehingga masih aman.” Dan pada kenyataannya, hingga saat ini remaja seukuran kita yang dulu mengonsumsi susu atau masih pada saat ini, hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus penyakit akibat bakteri ini.
IPB, selaku institusi pendidikan tinggi, sangat menjunjung tinggi kode etik penelitian. IPB tidak dipengaruhi oleh otoritas apapun, termasuk otoritas pemerintah maupun industri. “Kita patuh pada hukum, namun kita harus terus menjunjung tinggi etika penelitian. Saya tidak pernah ditekan oleh menteri. Dan kalaupun ada menteri yang menekan saya, saya akan bilang tidak. Terlalu murah jika IPB dibeli oleh pihak-pihak yang mementingkan kepentingan sendiri.”
“IPB akan mengumumkan jika memang masyarakat sudah dalam kondisi yang berbahaya atau darurat, sekalipun itu melanggar aturan. Hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus akibat kontaminasi E. sakazakii, dan sejak tahun 2008 seluruh merk susu telah dinyatakan negatif oleh BPOM.”, beliau menambahkan.
Dari paparan diatas, tentu sebaiknya kita kembali berkaca pada dunia pendidikan, yang memegang teguh Tri Dharma Pendidikan Tinggi. Seharusnya kita berterima kasih dan bersyukur dengan ditelitinya bakteri E. sakazakii oleh Dr. Estu yang akhirnya menjadi patokan dalam standar keamanan pangan internasional. Rektor mengimbau kepada pada masyarakat, untuk dapat memahami dan membaca dengan baik publikasi ilmiah, termasuk web ilmiah. Karena ini adalah penelitian yang bersifat ilmiah, maka bahasa yang digunakan juga ilmiah. Juga kepada media yang banyak melakukan distorsi terhadap sumber yang pasti. Rektor mengeluhkan dengan penyingkatan kalimat tulisan newsticker yang bertuliskan:
--IPB tidak izin melakukan penelitian kepada Kementrian Kesehatan--
padahal IPB selaku institusi memang berhak melakukan penelitian dan tidak memerlukan izin dari kementrian manapun. Tapi penulisan diatas cenderung menunjukkan penelitian yang dilakukan oleh IPB adalah ilegal. Pada awalnya ini merupakan publikasi ilmiah biasa, namun bergeser mulai dari persoalan hukum , kepentingan golongan, bahkan kepentingan politik semata. Ada beberapa pihak yang menggunakan kesempatan ini untuk menjadi terkenal dalam panggung perpolitikan semata.
Harapan dari saya untuk pembaca sekalian, agar dapat mengambil hikmah dari kasus ini. Saat ini sepertinya sudah tidak ada bidang yang tidak ditunggangi kepentingan politik atau golongan. Dunia pendidikan yang seharusnya bersifat independen dan berpihak pada kepentingan bersama serta kemajuan bangsa akhirnya mulai diusik dan diganggu dengan berbagai tuduhan telah menjadi bagian dari kongkalikong golongan tertentu. Bahkan dunia olahraga yang notabene nya jauh dari panggung perpolitikan dan murni untuk mengukir prestasi dan kesehatan pun mengalami hal yang serupa. Saya kira dengan berbagai media yang memberitakan kasus ini dari berbagai sudut pandang, seluruh masyarakat dan khususnya kaum intelektual dan cendekia dapat melihat kasus ini lebih dalam dan mengambil hikmah yang ada. Sesuai dengan amanat Pak Rektor, jangan sampai kasus ini membuat kreativitas dan semangat para peneliti turun dan takut karena adanya kasus seperti ini. Semoga kasus ini dapat cepat selesai tanpa merugikan pihak manapun, serta semangat para putra/putri bangsa terus membara dalam membangun negara. Salam.
NB: Mohon maaf jika terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penulisan ini karena keterbatasan dokumentasi dan pengetahuan penulis. Amat terbuka
Touching your heart!
"Shinobi yang melanggar aturan memang disebut sampah, tetapi shinobi yang meninggalkan teman seperjuangannya, lebih rendah dari pada sampah..." (Kakashi Hatake)
Entah sudah berapa kalinya tulisan bergenre hiperbolis bertajuk touching your heart memakasa mataku untuk terpana. Berpikir dalam kedangkalan pikiran yang kadang pragmatis, tak cukup hanya sekali berulang kali sampai mengendapkan sebuah prtanyyaan, emang apanya yang touching my heart?, ketinggian bangunannya? Keteraturan lalu lintasnya? Kebersihannya? Atau budaya bacanya? Ternyata bukan, bukan itu..
Lama tak menemukan jawaban, ia tertimbun gelombang tsunami Jepang. Hingga…
Saat, asap harum mengepul bersama soto versi enkulturasi Indonesia-Taiwan-nya meredakan gejolak HCL lambungku, saat air kamar mandi-nya menyegarkan badanku yang udah kagak karuan aromanya, saat empuknya kasur tidur menahan hampir 55kg bobot tubuhku, saat jaringan internet menolong tugas presentasiku, saat manisnya teh-susu-jeruk menopang kebutuhan kaloriku, saat obrolan hangat nan berisi membuka cakrawala perjuanganku, saat berjam-jam waktu dihabiskan untuk ku, saat serak agak menedekati buruk-nya suara dipaksa untuk tetap bersuara menjawab pertanyaanku, klimaksnya saat senyuman ramah nan juga hangat refleksi keikhlasan meredakan segala kekhawatiranku,
Saat itu terjadi, aku mendadak tahu apa yang meng-touch my heart, transformasi keikhlasan!
Untuk Laskar Chiayi, matur nuwun sanget!
Dakwah Kita (baca: IPB), Berat?
Udara diluar teramat dingin bagi ari dan epidermis masyarakat tropis seperti aku, thermometer yang tertera di jalan menunjukkan angka 11oC, angin berhembus kencang hingga kerah jaketku bergerak-gerak seperti ekor kucing yang malu-malu. Pohon yang menjaga gang jalan terpaksa menggugurkan daunnya, kalaupun daunnya tersisa mungkin ia hanya menunggu ajalnya untuk gugur. Sementara bibirku kering, agak perih dan sedikit berdarah dijemur dibawah angin-angin yang menggigit.
Bangunan itu terlihat agak lapuk secara fisik, bertuliskan agak besar “toko TIWI” dan terjemahan tulisan chinese yang tidak terbaca di mata lentikku, beranjak ke dalam ditemukan Sup*rmi, Sa*imi, Mie Se*aap, yang terbang (atau mengapung) jauh dari pabriknya di Karawang dan Purwakarta. Penjaganya seorang warga lokal muallaf (aku ketahui hal ini belakangan) beristri seorang Warga Negara Indoensia, mbak TIWI, Yah, gambaran sebuah toko Indo (baca: masyarakat lokal menyebut Indonesia dengan Indo) diantara buanyak toko Indo di Formosa.
Langsung diarahkan ke lantai 3,
Setelah mencopot sandal dan kaus kaki, beranjak masuk kedalam ruangan dengan alas beton kasar diselimuti karpet hijau, ujungnya sudah menggulung, melindungi dari angin luar menggunakan dinding asbes yang “sedikit” dipaksa untuk dipersatukan dengan baut tajam, untuk “memperindah” dinding dari lengkungan asbes digunakan spanduk seken sebuah acara penyejuk hati yang diselenggarakan oleh “orang-orang tempat itu”. Dipojok berjejer komputer layar lebar, laptop, colokan 3 lubang, permainan biliar model kecil dan beberapa kerat roti. Akhir-akhir kuketahui bahwa komputer dan jaringan internet digunakan untuk menjadi daya tarik Tenaga Kerja Indo untuk sowan ke tempat itu.
Tempat itu musholla, tanpa mimbar, satu-satunya tempat sholat di sebuah kota terbesar ke-4 di Taiwan.
Idealisme akan agama yang mulai terkoyak di hati para Tenaga Kerja (belakangan kuketahui koyakan ini juga menerpa para mahasiswa), bebasnya kehidupan malam, gaya pakaian wanita yang ndak enak dilihat, dinginnya waktu subuh, minimnya fasilitas sholat, tidak adanya air di tempat BAB, kerinduan akan segala sesuatu yang berhubungan akan tanah air, serta belum lagi paparan makanan yang mengandung babi dan daging yang tidak menyebut nama Allah saat disembelih sudah sedemikian luasnya,
Masalah semua bukan? Bayangkan seberapa besar potensi mereka untuk mengeluh,
Sedangkan mereka seperti laiknya manusia biasa,
Bagaimana di Kampus? (tak usah diajabarkan, tinggal memberikan negasi pada kalimat-kalimat yang menjabarkan keadaan disana)
Namun, sepanjang aku disampingnya, berjalan beriringan, hanya senyuman khas transformasi dari sebuah perasaan ikhlas yang aku lihat. Hanya itu, tanpa keluh.
Catatan di bawah rimbun Sakura
Formosa, 22 Maret 2011
Mutiara Jalan Raya
3.13
Tepatnya lupa, sekitar 5.45, selepas naik dari Terminal Banyu Manik Semarang
Di depan SPBU Kaligawe, Pak Sopir Lorena KE 461 B 7866 VB, menghentikan armadanya, menemui istri tercintanya yang sedari tadi menunggu di pinggir jalan, untuk menukar tas yang penuh pakaian kotor, dibarter dengan bekal pakaian bersih. Bisa jadi, sudah berhari-hari beliau tak pulang ke rumah. Tak banyak kata di antara keduanya, karena sebentar kemudian pengemudi itu kembali ke belakang kemudi karena posisi bis sedikit memacetkan jalan. Mungkin, tak ada kalimat untuk sekedar menanyakan kabar keluarga, kondisi anak-anak atau urusan di rumah karena diburu waktu. Padahal intensitas pertemuan mereka sangat jarang, kalaupun ada hanya singkat. Betapa beratnya profesi seorang pengemudi bis jarak jauh, yang deminya harus rela kehilangan waktu bercengkerama bersama keluarga.
Sedang si istri terlihat tegar dari sorot matanya yang tak pernah lepas menatap raut sang suami, mengantarnya kembali bekerja. Berharap Bapaknya anak-anak diberikan keselamatan selama menjalankan tugas, dan pulang membawa rejeki halal bagi kelangsungan rumah tangganya. Kedepan, di masa depan, mungkin banyak dihadapkan adegan kemanusiaan semacam ini selama menjalani perjalanan-perjalanan panjangku. Bagiku, istri-istri mereka adalah orang-orang hebat, wanita-wanita yang tabah, tak manja dan tak cengeng ditinggal suami bekerja meski dengan resiko tinggi di sekelilingnya, yang tak pernah berkeluh kesah menjalani single parent dalam mendidik dan membesarkan anak, serta pribadi yang mandiri, tak semata bergantung pada suami saat menangani masalah yang ada.
Ya Allah, di balik kerasnya atmosfer jalan raya, Engkau berkenan menyuguhkan realita kehidupan yang penuh makna untuk dihayati.
Semoga ... (sebuah dosa untuk istriku kelak)
Amin
3.24
Indonesia: Paling Nyaman
Bangun tidur, langsung loncat dari ranjang tingkat 2,
Beberapa kata dari seseorang karib membuatku bergegas bangun. “Kalau di Singapur mah ada MRT, semua transportasi udah tertib bla bla bla nggak kayak di sini” kupingku panas mendengarnya, sebuah komentar status karibku hari ini “Kapan yah Indonesia kayak Nagara Maju Laen bla bla bla?” beberapa bulan lalu ada seseorang yang dikenal jago di Kampus mencoba membandingkan Indonesia dengan negara yang (pernah) beliau kunjungi, lagi-lagi sebuah kalimat kekecewaan yang beliau tampakkan, bahkan mendekati sebuah penyeselan karena (sempet) tinggal dan lahir di Indonesia. Banyak banget mungkin lepasan kata yang belum sempet lepas dari hati tentang sebuah negatifitas memandang Indonesia dari sisi kemajuan Negara laen.
Tapi teman, setelah kupikir ternyata mereka memandang Indonesia dari sudut yang sangat sempit. Sangat sempit. Mereka mungkin lupa bahwa (atau malah tidak tau) banyak bangsa Indonesia yang masing menjunjung tinggi budaya komunal dan rasa keguyuban yang sangat jarang ditemui di Luar Negeri, mereka mungkin lupa (atau bahkan belum tahu) bahwa bangsa Indonesia rajin menyunggingkan senyum, mereka mungkin lupa dengan kebiasaan “mudik” yang merupakan refleksi dari kerinduan akan kampung Indonesia, mereka sedikit menutup mata dengan para Pemuda Indonesia yang sampai saat ini masih menjadikan visi “Indonesia Lebih Baik dan Bermartabat” sebagai visi hidup mereka, atau tidak tau?
mereka mungkin lupa dengan berjuta kekayaan dan keunikan budaya Indonesia, mereka lupa dengan legitnya lapis legit, mereka lupa akan teduhnya lantunan sasando rote, lupa akan dingin yang diciptakan atap “Nuwo Sesat”, mereka lupa dengan keteraturan dalam keindahan tari saman, mereka lupa dengan merah putihnya walau mereka pernah menangis kehidupan ditanahnya,
Lupa banyak hal (ndak cukup menuliskan kenyamanan Indonesia din sini), (mungkin) pikiran mereka tertutup bayang-bayang hitam kemajuan “Luar Negeri”
(Sedikit marah) mestinya pertanyaan “kapan Indonesia seperti negara maju” dan sanak famili dari perkataan itu ndak perlu dilafalkan, cukup dipatri, dipahat, dalam hati, ditata kuat-kuat dan ditransformasikan dalam bentuk semangat memperjuangkan bangsa sembari tetap berkerangka “Indonesia tetep negara paling nyaman”.
Maaf, menurutku, Indonesia tetep yang paling nyaman (Messayu 2011)

